Jumat, 30 November 2018

Mengenal Candi


MENGENAL CANDI

Hallo sahabat blogger, pernahkah sahabat blogger berkunjung ke bangunan kuno peninggalan sejarah nenek moyang kita yang masih tegar berdiri sampai sekarang? Banyak sekali bukan bangunan kuno tersebut? Ada kraton/ istana, benteng, gapura, biara, pemandian, candi dan lain-lain. Kali ini saya akan sedikit berbagi tentang salah satu peninggalan sejarah yang berupa bangunan, yaitu Candi.  


Sumber : https://www.jejakpiknik.com/candi-gedong-songo/

Arti Candi
Candi sebagai bangunan tempat ibadah dari peninggalan masa lampau yang berasal dari agama Hindu Buddha (Wikipedia). Menurut Prof. HJ. Krom dan Dr. WF Stutterheim mengartikan candi dari asal katanya CANDIKA GHRA. Candika (nama lain Sakti Siwa)= Dewi maut (di Indonesia dikenal Bethari Durga = Durga Mahesa Sura Mardhini) dan GRHA = GRAHA = GRIYA/GRIYO yang artinya rumah. Jadi Candi menurut mereka adalah rumah untuk bethari Durga = rumah dewi maut. Di Indonesia, wujud Ciwa Durga  Mahesa Sura Mardhini dapat kita jumpai di candi Prambanan pada Candi Ciwa, yang berwujud patung yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Roro Jonggrang. Jadi pada masa klasik candi dipahami sebagai tempat suci untuk bakti kepada para dewa. Namun dalam perkembangannya istilah 'candi' tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah dengan bentuk bangunan layaknya bangunan peribadatan saja. Hampir semua situs purbakala dari masa Hindu Budha atau klasik Indonesia, baik sebagai istana, pemandian/petirtaan, gapura, dan sebagainya, disebut dengan istilah candi. Mari kita simak sejenak video berikut ini :


Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=LFQ2n01dJO0

Fungsi  Candi
Hampir semua ahli sejarah sependapat bahwa konsep dan arsitek candi berasal dari pengaruh Hindu dari India yang menyebar pengaruhnya hingga ke Nusantara sekitar abad ke 4 hingga abad ke 15. Pengertian pengaruh Hindu di sini adalah untuk menyebut semua bentuk pengaruh yang berasal dari India yang masuk ke Nusantara pada periode yang disebutkan di atas. Pengaruh-pengaruh itu diantaranya agama/kepercayaan Hindu dan Budha dengan tata cara ritualnya, bahasa dan tulisan (Sansekerta dan Palawa), konsep kasta dalam masyarakat (stratifikasi sosial), sistem pemerintahan feodal dan arsitektur bangunan. Dari tempat asalnya (India), fungsi candi merupakan bangunan suci untuk pemujaan/upacara ritual kepada para dewa. Setibanya di Nusantara fungsi candi tidak hanya difungsikan untuk pemujaan (bangunan suci) tetapi juga untuk tempat perabuan (baca=kuburan) dan sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang, seperti punden berundak-undak pada zaman prasejarah. Dimasa kerajaan Hindu Budha berjaya ditanah air, jenazah para raja yang diyakini sebagai titisan dewa setelah dikremasi (diperabukan=dibakar) ditanam di candi pada suatu wadah yang disebut pripih. Dalam istilah kuno proses ritual demikian diistilahkan dengan kata dicandikan, artinya dimakamkan di candi. Dengan demikian bangunan suci candi terutama berfungsi untuk pemujaan dan memuliakan arwah nenek moyang, terutama raja dan orang terkemuka. Di dalam bangunan candi tersebut ditanam abu jenazah dan beberapa  macam benda, misalnya potongan logam, batu akik, permata disertai beberapa sesaji. Benda-benda tersebut dianggap sebagai lambang jasmani raja yang telah meninggal dengan dewa penitisnya. Pripih di tanam di ruang utama candi. 

Sumber:  https://regional.kompas.com/read/2016/03/27/18200721/Petugas.Imbau.Warga.Tidak.Menggali.Situs.Purbakala.Boyolali

Sebagaimana kita pahami di atas, bahwa pengertian candi di Indonesia tidak hanya dipakai untuk menyebut peninggalan-peninggalan masa klasik yang bentuknya seperti bangunan suci tempat ibadah/ritual saja, tetapi terdapat pula  banyak peninggalan klasik yang dapat disebut sebagai candi. Misalnya berupa ‘patirtan’ atau tempat pemandian. Tentu saja peninggalan seperti ini dahulu difungsikan sebagai tempat mandi dan aktifitas sehari-hari seperti mandi dan mencuci atau tempat pemandian para putri raja dan kerabatnya (contohnya Candi Tikus, Petirtaan Gua Gajah dan Tirta Empul di Gianyar Bali). Demikian pula bentuk candi berupa keraton dan gapura. Keraton merupakan tempat tinggal dan pusat pemerintahan raja yang memerintah dan gapura difungsikan sebagai tempat pintu masuk ke wilayah keraton atau tempat penting lainnya (misalnya Candi Bajang Ratu, Candi Bentar Wringin Lawang, keduanya peninggalan Kerajaan Majapahit). Bahkan ada pula bentuk bangunan candi yang dipakai sebagai benteng pertahanan (misalnya Candi Ratu Boko).

Struktur  Candi
Secara umum struktur candi tersusun menjadi tiga bagian tegak (vertikal) yaitu bagian kaki/alas, bagian tubuh/ badan dan bagian atas/ atap candi, dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Bagian kaki candi disebut BHURLOKA melambangkan dunia manusia (dunia bawah=bhumi) pada umumnya berbentuk bujur sangkar dan berdiri pada alas yang lebih tinggi daripada permukaan tanah. Pada candi Borobudur (Budha) struktur kaki terdapat di lapisan KAMADHATU yaitu perlambang dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Relief kisah Kammawibhangga terpahatkan di dindingnya meski hanya beberapa panel yang tampak karena sebagian ada yang tertutup tanah.
2. Bagian tubuh candi disebut BHUVARLOKA melambangkan dunia untuk yang disucikan. Pada badan/ tubuh candi biasanya terdapat bilik tempat arca. Pada candi Hindu, selain arca raja dalam perwujudannya sebagai dewa, di bawah arca dibuat semacam sumur untuk meletakkan pripih. Di bagian samping kiri, kanan dan belakang bilik utama dibuat relung-relung yang diisi arca, biasanya arca Durga, Siwa Mahaguru dan Ganesha. Pada candi besar, relung-relung dibentuk menjadi bilik yang lebih kecil daripada bilik utama. Bilik ini mempunyai pintu dan tangga masuk tersendiri. Pada Candi Budha, di bilik utama tidak terdapat pripih tetapi terdapat arca Budha yang didampingi Awalokiteswara, atau arca Tara. (Perlu diketahui pula bahwa di beberapa candi terdapat perkecualian, misalnya Candi Borobudur, tidak mempunyai bilik tempat arca). Pada bagian tubuh Candi Borobudur terdapat empat lantai lapisan dengan dinding berelief yang dinamai para ahli arkeologi sebagai lapisan RUPADHATU melambangkan dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan rupadhatu melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pahatan patung Budha di lapisan ini, diletakkan di ceruk-ceruk dinding di atas selasar
3.  Bagian atap candi dikenal dengan SVARLOKA yang merupakan dunia dewa-dewa. Atap candi Hindu biasanya bertingkat 3, semakin ke atas semakin kecil, di bagian puncak dibentuk semacam genta (lingga ratna). Tiga tingkatan candi Hindu itu melambangkan alam bawah (alas), alam antara (badan) dan alam atas (atap). Pada candi Budha, bagian atap candi terdapat stupa yang merupakan ciri utamanya. Bangunan stupa ini berbentuk mangkuk terbalik dengan semacam menhir di atasnya. Pada bangunan stupa yang masih utuh, pada puncak menhir umumnya terdapat bangunan kecil seperti payung yang disebut cakra. Tigkatan paling atas (head) atap candi Borobudur disebut lapisan ARUPADHATU = lapisan tidak berwujud. Tingkatan ini berlantai dasar bundar melambangkan alam atas, simbol manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai sorga (nirwana). Patung Budha pada lapisan ini diletakkan di dalam stupa bertutup dengan rongga-rongga berbentuk belah ketupat dan persegi. Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupanya polos tanpa rongga. Struktur candi Borobudur mengingatkan kita akan konsep awal arsitektur bangunan di masa purba Indonesia berupa punden berundak- undak. Beberapa ahli arkeologi arsitek klasik berpendapat bahwa struktur candi Borobudur mendapatkan pengaruh kekuatan ‘lokal genius’nenek moyang bangsa Indonesia di masa purba itu.
Pada awalnya stupa digunakan untuk menyimpan abu jenazah Sang Budha. Kemudian digunakan untuk menyimpan abu jenazah para bhiksu dan orang suci (arhat) terkemuka atau untuk menyimpan benda-benda suci Sang Budha, bikhsu atau arhat terkemuka. Dalam perkembangannya, stupa digunakan untuk peringatan tempat-tempat suci dalam kehidupan Sang Budha dan juga sebagai lambang agama Budha. Stupa untuk menyimpan abu jenazah Sang Budha dan bhiksu atau arhat disebut Dhatugarbha. Sebagai lambang suci, stupa itulah yang kemudian menjadi benda pujaan yang disebut Caitya
Berikut adalah gambar penampang/ bagian-bagian candi Hindu:



Sumber : http://iraganean.blogspot.com/2012/04/sekilas-tentang-candi.html

Struktur Candi Budha (Borobudur) :

Sumber : 
 http://editpengetahuan.blogspot.com/2016/03/bagian-bagian-candi-borobudur.html

Perbedaan Candi Jawa Tengah  (Bagian Utara dan Selatan) dengan Candi Jawa Timur

Pembangunan sebuah candi sebenarnya erat kaitannya dengan alam pikiran dan sistem tata pemerintahan kerajaan pembangun candi. Candi, ada yang didirikan hanya sebuah, ada juga yang dibangun berkelompok. Kelompok atau komplek candi terdiri atas candi induk (yakni candi yang terbesar) dan candi pewara (yakni candi kecil yang dibangun mengelilingi/ di sekitar candi induk). Pada kelompok candi Jawa Tengah bagian selatan, candi pewara teratur rapi dan berjajar mengelilingi candi induk. Pada kelompok candi Jawa Tengah bagian utara, candi pewara mengelilingi candi induk tetapi letaknya tidak teratur. Bahkan candi pewara merupakan kelompok candi tersendiri dengan letak tidak beraturan juga.  
  
Dari susunan pengelompokan candi kita dapat menyimpulkan bahwa susunan pengelompokan candi Jawa Tengah selatan yang menjadi wilayah kekuasaan keluarga/ Dinasti Syailendra memiliki sistem pemerintahan feodal/ terpusat. Dimana pemerintah pusat memilki kekuatan yang sangat besar bagi kerajaan-kerajaan di bawahnya. Sedangkan Jawa Tengah utara yang menjadi wilayah kekuasaan keluarga/ Dinasti Sanjaya, memliki sistem pemerintahan yang federal, demokratis. Kerajaan bawahan diberi hak otonomi untuk menentukan nasibnya sendiri. Tidak harus tergantung dari pemerintah pusat. Hal itu bisa dilihat dari susunan candi-candi pewaranya.

Bagaimana dengan candi Jawa Tengah dan Jawa Timur? Pada prinsipnya berdasarkan fungsi dan struktur candi, tidak terdapat perbedaan antara candi Jawa Tengah dengan candi Jawa Timur.  Tetapi jika dilihat dari segi fisik bagunannya  (istilah ini sering disebut dengan langgam), dan cara membaca relief yang terpahat pada candi, ternyata terdapat perbedaan.
Sekarang coba kita amati perbedaan antara Candi Jawa Tengah dengan Candi Jawa Timur.  Perbedaan spesifik candi di kedua wilayah itu diantaranya adalah;
1.   Dari cara masuk dan membaca relief.
Jika kita berkunjung ke candi di Jawa Tengah, untuk bisa membaca cerita relief yang terpahat pada candi, dari pintu masuk kita harus melakukan pradaksinapata (membacanya  searah dengan jarum jam). Sedangkan pada candi-candi di Jawa Timur, dari pintu masuk kita harus melakukan prasawiya (membacanya berlawanan arah dengan jarum jam).
2.   Dari segi bentuk candi
Secara umum candi-candi yang ada di Jawa Tengah bentuknya terkesan tambun (gemuk) sedangkan di Jatim lebih ramping.
3.  Pada pintu (relung pintu masuk) terdapat kalamakara yang di Jawa Timur jarang dijumpai kalamakara
4.  Relief yang terpahat pada dinding candi-candi di Jawa Tengah adalah relief timbul dengan gaya naturalis sementara pada candi-candi di Jawa Timur sedikit timbul dengan gaya impresif.
5. Di Jawa Tengah, candi induk diletakkan di tengah komplek percandian sedangkan di Jawa Timur  agak kebelakang.
6.  Candi-candi di Jateng banyak yang menghadap ke timur, dan yang berada di Jatim banyak berarah hadap ke barat.
7. Bahan baku pembuatan candi di Jawa Tengah dari batu andesit (batuan vulkanik/batu kali) dan di Jawa Timur sebagian besar terbuat dari batu bata (bata merah = dari tanah liat). Itulah sebabnya mengapa di Jawa Timur lebih sedikit ditemukan candi, kerana kemungkinan bangunannya lapuk termakan usia.

Untuk lebih jelasnya mari kita simak video berikut ini :



Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=wF8JhGfXbc4

Itulah sedikit pengetahuan tentang candi, mudah-mudahan bermanfaat, setidaknya kita memperoleh pengetahuan tentang masa silam. Tentang kearifan nenek moyang bangsa Indonesia, filosofi kehidupan mereka, yang telah banyak tersiratkan di setiap panel-panel dan ornamen relief candi. Jika kita mau membaca dan memahaminya peninggalan bersejarah ini setidaknya pernah menjadi saksi kejayaan nenek moyang kita di masa silam. Apakah kita tak ingin mengetahuinya? 


Jumat, 23 November 2018

Soal Kerajaan Mataram Kuno

 
Hallo Sobat blogger, saya sarankan sebelum menjawab pertanyaan di bawah ini, sebaiknya Anda telah membaca materi blog saya tentang Kerajaan Mataram Kuno. Setelah itu, isilah identitas Anda dengan benar dan jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat! Selamat mencoba, semoga sukses!


Selasa, 20 November 2018

Soal Peristiwa 10 November

Sobat blogger tercinta, salam sukses luar biasa untuk Anda semua. Di bawah ini mari kita coba berlatih soal ya, tetapi sebelum menjawab pertanyaan, sebaiknya Anda membaca dulu materi blog saya tentang Peristiwa 10 November 1945. Setelah itu, cobalah untuk menjawab pertanyaan di bawah ini. Semoga sukses untuk Anda semua!

 

Sabtu, 17 November 2018

Merapi dalam Kajian Historis


Merapi dalam Kajian Historis




Sumber : http://surabaya.tribunnews.com/2018/05/11

Merapi, bukan hanya namanya yang mengandung api, tetapi gunung ini merupakan salah satu gunung berapi teraktif di dunia. Letusan merapi tak hanya menghancurkan alam yang ada di sekitarnya, tetapi juga menghilangkan nyawa bahkan harapan manusia yang tinggal di lerengnya. Sejarah telah mencatat bahwa letusan Merapi memakan ribuan bahkan ratusan ribu jiwa. Memang di sisi lain, setelah Merapi memuntahkan semua isi perutnya membuat tanah di sekitarnya menjadi subur. Tetapi sudahkah kita memperhitungkan berapa keuntungan dan kerugiannya jika tinggal di lerengnya? Apakah kita sudah siap menghadapi bencana yang ditimbulkannya?

Sejarahpun telah mencatat bahwa Merapi telah lama menjadi “momok” bagi masyarakat di sekitarnya. Dengan kekuasaan Sang Pencipta, orang tak bisa menganggap remeh kekuatan Merapi jika sudah berulah, termasuk Mpu Sindok, raja pertama dari Wangsa Isyana inipun harus berfikir seribu kali unutk tetap tinggal di lereng Merapi.

Di tempo dulu, Gunung Merapi merupakan salah satu wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. Kesuburan tanahnya membuat sebagian besar penduduk Mataram berdiam di lerengnya. Bahkan kehidupan yang “gemah ripah loh jinawi” itu membuat Mataram Kuno merupakan salah satu kerajaan yang banyak mewariskan peninggalan-peninggalan megah dan mempesona dunia. Dari Candi Borobudur, Prambanan, Kalasan, Plaosan, Sari, Sambisari, Sewu, Mendut, Pawon, Ratu Boko dan masih banyak lagi lainnya, yang tersebar dari Yogyakarta, Magelang bahkan sampai Semarang.

Akan tetapi, ketakutan akan bencana letusan Gunung Merapi, juga menjadi salah satu alasan mengapa Mpu Sindok pada tahun 929 M memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, setelah sebelumnya Mataram diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Pangkajaya Dyah Wawa. Semula Mpu Sindok hanyalah seorang Mahamantri I Hino yang membantu Wawa dalam memerintah Mataram. Tetapi akhirnya Mpi Sindok dijadikan menantu oleh Wawa.

Pemerintahan Wawa sangatlah singkat dan berakhir secara tiba-tiba (924-929 M). Menurut hasil analisis ahli geologi sejarah, Reinout Willem Van Bemmelen, pada tahun 929 M Mataram tertimpa oleh bencana alam dari letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat. Pusat kerajaan hancur luluh (pralaya) dan konon wahyu kraton lenyap bersama letusan Merapi. Tak ada lagi harapan untuk tetap bertahan di lereng Merapi, bahkan Candi Borobudur yang besar dan megah itupun tertimbun oleh letusannya sampai sejauh 30 km di sebelah barat Merapi (meskipun pendapat ini pada akhirnya banyak ditolak karena tak ada bukti sejarah yang otentik). Namun pada akhirnya peneliti Merapi sepakat bahwa erupsi Merapi dalam waktu yang lama telah menelan kehidupan rakyat Mataram Kuno.

Mpu Sindok yang menggantikan tahta Raja Wawa, beserta para bangsawan lainnya, memindahkan pusat pemerintahan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur di daerah Kanjuruhan. Daerah ini memang sudah tunduk kepada Mataram sejak lama. Di sinilah Mpu Sindok membangun ibu kota baru Kerajaan Medang (bukan lagi Mataram Kuno) Di Tamwlang pada tahun 929 M itu juga. Sejak saat itu berakhirlah pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah yang telah berlangsung kurang lebih 197 tahun (732-929) di Jawa Tengah.

Pindahnya pusat pemerintahan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur memang bukan hanya karena faktor alam saja, tetapi ada juga karena faktor politik dan ekonomi. Dari faktor politik, Mpu Sindok sadar betul akan ancaman dari Kerajaan Sriwijaya, karena tidak menutup kemungkinan bahwa keturunan Mataram asli (Balaputradewa) pasti akan menyerang Mataram. Itulah sebabnya ia perlu menghindari serangan tersebut dengan jalan berpindah.

Sedangkan dari faktor ekonomi, Jawa Timur dipandang lebih strategis, karena disamping bisa mengembangkan ekonomi agraris juga bisa mengembangkan segi perdagangan karena Jawa Timur dekat dengan pelabuhan-pelabuhan penting yang ramai, seperti Tuban, Gresik dan Surabaya.

Tetapi diantara ketiga alasan tersebut yang paling mendesak untuk dilakukan adalah untuk menghindari letusan Merapi. Sebuah fenomena alam yang yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apapun alasannya, Mpu Sindok tak bisa menganggap remeh akan bencana Merapi. Itu sebabnya ia lakukan tindakan tanggap cepat bencana karena tak ingin sejarah Mataram Kuno yang besar itu (yang kini telah menjadi Kerajaan Medang), kembali luluh lantak oleh letusan Merapi yang dahsyat.

Nah, kini penduduk di lereng Merapi harus bisa mengambil keputusan yang tepat. Jika orang-orang di jaman dulu saja sudah berfikir sejauh itu akan pentingnya menghindari letusan Merapi, bagaimana dengan manusia modern kini? Yang notabene mereka justru lebih pandai dan lebih canggih dalam menakhlukkan dan membaca fenomena alam. Adakah sebuah harapan yang lebih besar untuk tetap tinggal di dekat Merapi, melihat kenyataan yang demikian? Sudahkah gerakan cepat tanggap bencana itu kita lakukan untuk menjawab tantangan alam tersebut? Mari kita simak sejenak erupsi Merapi berikut ini :






Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=Lcr81815dno

Secara ekonomi, lereng Merapi memang sangat menjanjikan untuk dijadikan sebagai tempat untuk mencari hidup dan penghidupan. Apapun yang ditanam di sana pasti memberikan harapan lebih untuk bisa dipetik hasilnya secara melimpah. Namun kita tetap harus ingat bahwa bahaya Merapi jauh lebih besar, kecuali kita sudah mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Senior Research Fellow Earth Observatorry of Singapore di Nanyang Technological University, A.Ratdomopurbo (sebagaimana tercatat dalam berbagai dokumen kegunungapian) mengatakan bahwa dalam kurun 1.000 tahun, Merapi meletus secara eksplosif yang berlanjut sampai masa modern. Selama masa kolonial Belanda saja Journal of Vulcanology and Geothermal Reseacrh melaporkan ada 6 kali letusan besar Merapi, yaitu tahun 1587, 1672, 1768, 1822, 1872 dan 1930. Bahkan letusan tahun 1822 termasuk letusan yang sangat besar dengan jarak awan panas mencapai 10-15 km, merata di Kali Blongkang, Senowo, Apu, Trising, Gendol dan Woro, termasuk yang di tahun 2010 menjadi lapangan Golf Cangkringan.

Letusan yang disebabkan hancurnya kubah lava yang memunculkan awan panas sejauh 13 km terjadi pada tahun 1930. Letusan itu mengubur 13 desa dengan endapan lahar setebal 10 meter. Letusan berikutnya terjadi pada tahun 1984, 1992, 1994, dan 2006 dengan jarak jangkau awan panas sekitar 7-8 km. Meski tergolong letusan kecil, tetapi tetap memakan korban (Kompas.com, 12 November 2010).

Meski banyak masyarakat yang tinggal di lereng Merapi menganggap bahwa letusan Merapi adalah hal yang sudah biasa yang memberi harapan akan masa depan yang lebih baik, karena kesuburan tanahnya, ketersediaan rumput, sayur-sayuran yang menghijau dan padi yang padat berisi, serta pasir yang melimpah dan air yang cukup memeberi kehidupan, namun kita tetap harus waspada.

Letusan di tahun 2010 telah banyak mengajarkan kepada kita semua akan segala sendi kehidupan yang ada. Semua harus bertindak cepat dan tepat untuk membuktikan teori Toynbee “challenge and respons” jika tak ingin tergilas oleh lahar dan lava Merapi. Kita harus bisa belajar dari sejarah dan pandai-pandainya memetik hikmah dari semua peristiwa. Ajaran tentang nilai-nilai kemanusiaan, kedekatan dengan alam dan Sang Khaliq, menjadi hikmah tersendiri di balik letusan Merapi.

Dibutuhkan keberanian dan pemikiran yang luar biasa untuk bisa menaruh harapan akan kenyataan Merapi. Semoga harapan dan kenyataan itu bisa membawa kebahagiaan untuk saudara-saudara kita yang sudah menentukan pilihannya untuk tetap bertahan di lereng-lereng Merapi dan sekitarnya. Amiin Ya Robb.

Jumat, 16 November 2018

Kerajaan Mataram Kuno


Assalamu'alaikum Wr.Wb. Hallo sahabat blogger, apa kabar? Selalu sehat dan tetap semangat ya? Kali ini saya akan berbagi mengenai kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia, salah satunya adalah Kerajaan Mataram Kuno. Jangan salah sahabatku, Kerajaan Mataram tidak hanya satu lho, karena ada Kerajaan Mataram Kuno (Lama), dan ada kerajaan Mataram Islam. Kali ini kita mempelajari tentang Kerajaan Mataram Kuno. Selamat menyimak!
KERAJAAN MATARAM KUNO
Sebelum budaya India masuk ke Indonesia, masyarakat belum mengenal pemerintahan kerajaan. Kala itu masyarakat dipimpin oleh seseorang  yang disebut kepala suku. Dengan masuknya budaya India, kedudukan kepala suku diganti oleh seorang raja, dan pedesaan berubah menjadi kerajaan. Dengan demikian muncullah kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha di Indonesia. Kerajaan-kerajaan ini mulai berkembang sejak abad ke 5 Masehi. Salah satunya adalah Kerajaan Mataram Kuno yang berkembang abad ke-8 Masehi dan berpusat di Medang Kamulan Kerajaan Mataram Kuno adalah kerajaan yang bercorak Hindu


A.    Sumber Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Sumber sejarah untuk mempelajari tentang Kerajaan Mataram Kuno dapat diketahui dari adanya:
1.      Prasasti Canggal
Prasasti ini ditemukan di Gunung Wukir, Desa Canggal Kecamatan Kadiluwih. Letaknya di sebelah barat kota Magelang. Prasasti Canggal berangka tahun 732M berhuruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta.


Prasasti Canggal menerangkan bahwa Jawa Dwipa diperintah oleh Sanna yang mempunyai saudara perempuan bernama Sanaha yang kemudian berputra Sanjaya. Setelah pemerintahan Sanna berakhir, Sanjaya berhasil membangun kerajaan baru yang bernama Mataram. Jadi yang mengganti Raja Sanna adalah Sanjaya (kemenakannya) dengan memakai gelar “RAKAI MATARAM SANG RATU SANJAYA”. Prasasti ini juga menceritakan tentang pembangunan sebuah lingga oleh Raja Sanjaya di bukit Kunjarakunja dengan tujuan untuk memuja Dewa Siwa.
2.      Prasasti Balitung / Mantyasih/ Kedu
Prasasti Balitung dibuat pada masa pemerintahan Raja Balitung dan ditemukan di Mantyasih dekat Kedu yang berangka tahun 907. Prasasti ini berupa lempengan tembaga yang berisi silsilah dinasti Sanjaya. Isi dari prasasti ini antara lain berbunyi: “Rahyangta Rumuhun Ri Medang Ri Poh Pitu”, yang artinya dewa-dewa atau nenek moyang kami yang telah meninggal di Medang di Poh Pitu.


Silsilah Dinasti Sanjaya itu adalah sebagai berikut :
1.      Sri Maharaja Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (732-760)
2.      Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760-780)
3.      Sri Maharaja Rakai Panunggalan (780-800)
4.      Sri Maharaja Rakai Warak (800-820)
5.      Sri Maharaja Rakai Garung (820-840)
6.      Sri Maharaja Rakai Pikatan (840-863)
7.      Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (863-882)
8.      Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882-898)
9.      Sri Maharaja Rakai Hura Dyah Balitung (898-910)
Karena prasasti ini ditemukan di Mantyasih daerah Kedu, makanya disebut juga prasasti Mantyasih atau prasasti Kedu.
3.      Prasasti Kalasan


Dalam prasasti yang berangka tahun 778 M ini disebutkan nama lengkap Raja Panangkaran yaitu Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Dengan demikian Rakai Panangkaran berasal dari keluarga Syailendra, begitu pula Sanjaya. Dengan kata lain keluarga Syailendra adalah Sanjaya dan keturunannya. Hanya pada masa pemerintahan Sanjaya, raja memeluk agama Hindu. Begitu juga pada masa pemerintahan Raja Panangkaran, ia juga beragama Hindu, tetapi pada masa pemerintahannya di Jawa Tengah mulai berkembang agama Budha. Bahkan Rakai Panangkaran pun membantu perkembangan agama Budha.
Prasasti Kalasan menyebutkan bahwa para pendeta Budha memohon ijin kepada raja untuk mendirikan bangunan suci untuk memuja Dewi Tara, dewa yang disembah oleh para pemeluk agama Budha. Permohonan ijin para pendeta ini dikabulkan oleh raja, bahkan raja memberikan Desa Kalasan untuk mendirikan bangunan suci tersebut. Bangunan suci itulah yang kemudian disebut  Candi Kalasan yang terletak di sebelah timur Yogyakarta. Setelah Panangkaran wafat, keluarga Syailendra di Mataram pecah menjadi dua.
4.      Prasasti Kelurak


Prasasti ini berangka tahun 782 M, ditulis dengan huruf Pranagari dan berhasa Sansekerta. Dalam prasasti tersebut dijelaskan bahwa seorang raja yang bernama Indra membuat bangunan suci dan arca Manjusri. Mungkin sekali yang dimaksud adalah bangunan Candi Sewu sebelah utara Candi Prambanan.
5.      Prasasti Karang Tengah/ Kayumwungan



Prasasti Kayumwungan adalah sebuah prasasti pada lima buah penggalan batu yang ditemukan di Dusun Karangtengah, Kabupaten Temanggung, Propinsi Jawa Tengah sehingga lebih dikenal dengan prasasti Karangtengah. Prasasti ini ditulis dengan aksara Jawa Kuno dan menggunakan dua bahasa. Baris 1 – 24 berbahasa sansekerta, baris selanjutnya ditulis Jawa Kuno. Masing-masing bahasa menunjuk angka tahun 746 Saka atau 824 Masehi. Ketika ditemukan, prasasti terpecah menjadi lima fragmen, yaitu a, b, c, d dan e. Bagian a, c, dan d sudah tidak ditemukan lagi. Bagian c sempat dialih aksarakan oleh J.G de Casparis. Koleksi ini adalah fragmen yang tersisa, yaitu fragmen b (D27) dan fragmen e(D34) yang saat ini disimpan di Museum nasional Jakarta.
Fragmen dengan nomor inventaris D27 adalah bagian atas prasasti yang setengah lingkaran pada bagian atas/ puncaknya. Berukuran 39 x 46 x 12 cm. Ditulis dalam huruf Jawa Kuno dan bahasa Sansekerta. Tulisannya sudah sangat aus dan sulit dibaca. Fragmen dengan nomor inventaris D34 adalah bagian bawah prasasti yang berbentuk segiempat. Berukuran 59 x 40 x 8,5. Ditulis dalam huruf Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno.Tulisannya masih cukup jelas. Kelihatannya kalimat baris terakhir dari prasasti ini belum selesai.


Isi tulisan pada bagian berbahasa Sansekerta adalah tentang seorang raja bernama Samaratungga. Anaknya bernama Pramodawardhani mendirikan bangunan suci Jinalaya serta bangunan Wenuwana (Venuvana_sansekerta, yang berarti hutan bambu). Untuk menempatkan abu jenazah “Raja Mega”; sebutan untuk Dewa Indra. Mungkin yang dimaksud adalah Raja Indra atau Dharanindra dari keluarga Syailendra.
Bagian Jawa Kuno menyebutkan bahwa pada 10 Kresnapaksa Bulan Jyestha Tahun 746 Saka (824 M), Rakai Patapan pu Palar meresmikan tanah sawah di Kayumwungan menjadi Tanah Sima atau tanah perdikan (daerah bebas pajak). Casparis mengaitkan bangunan Wenuwana ini dengan Candi Mendut, sedangkan Soekmono mengaitkannya dengan Candi Ngawen yang terletak di sebelah barat Muntilan, atas dasar persamaan bunyi nama. Sedangkan bangunan yang disebut Jinalaya diduga merujuk pada Candi Borobudur.
6.    Prasasti Sojomerto



Prasasti Sojomerto merupakan peninggalan Wangsa Syailendra yang ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan RebanKabupaten BatangJawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno. Prasasti ini tidak menyebutkan angka tahun, berdasarkan taksiran analisis paleografi diperkirakan berasal dari kurun akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 masehi.
Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Syailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu adalah penganut agama Budha.
Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43 cm, tebal 7 cm, dan tinggi 78 cm.[2] Tulisannya terdiri dari 11 baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia.

7.      Prasasti Boko



Prasasti ini berangka tahun 792 M yang dinamakan Prasasti Abhayagiriwihara. Isi prasasti tersebut mendasari dugaan bahwa Kraton Ratu Boko dibangun oleh Rakai Panangkaran. Prasasti Abhayagiriwihara ditulis menggunakan aksara pranagari. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Raja Tejapurnama Panangkarana, yang diperkirakan adalah Rakai Panangkaran, telah memerintahkan pembangunan Abhayagiriwihara. Nama yang sama juga disebut-sebut dalam Prasasti Kalasan (779 M)Prasati Mantyasih (907 M), dan Prasasti Wanua Tengah III (908 M).

Menurut para pakar, kata abhaya berarti tanpa hagaya atau damai, giri berarti gunung atau bukit. Dengan demikian, Abhayagiriwihara berarti biara yang dibangin di sebuah bukit yang penuh kedamaian.  Pada pemerintahan Rakai Walaing Pu Kombayoni, yaitu tahun 898-908, Abhayagiri Wihara berganti nama menjadi Kraton Walaing.

B.     Pecahnya Kerajaan Mataram Kuno
Rakai Panangkaran merupakan raja yang sudah mengembangkan sikap toleransi beragama, tetapi sejak Rakai Panangkaran wafat, kerajaan Mataram Kuno pecah menjadi 2 keluarga (wangsa) yaitu Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu dan Wangsa Syailendra yang beragama Budha
1.      Kerajaan Mataram yang bercorak Hindu.
Keluarga Sanjaya yang beragama Hindu, berkuasa di Jawa Tengah bagian utara. Kerajaan ini menurunkan raja-raja dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu, seperti Panunggalan, Warak, Garung dan Pikatan. Sisa peninggalannya berupa candi yang berada di kompleks Pegunungan Dieng, diantaranya Candi Bima, Arjuna, Puntadwea (Santiaji), Kompleks Candi Prambanan, Kompleks Candi Gedong Songo, Candi Pringapus dan Candi Selogriyo.



2.      Kerajaan Mataram yang bercorak Budha
Keluarga Syailendra yang beragama Budha, berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan, mereka membangun Candi Budha antara lain : Candi Mendut, Pawon, Kalasan, Sari, Sewu dan Borobudur. Sedangkan raja-raja dari Dinasti Syailendra antara lain Raja Bhanu (752-775), Wisnu (775-782), Indra (782-812), Samaratungga (812-833) dan Pramodhawardhani (833-856).

C.    Bersatunya Kerajaan Mataram Kuno
Kedua keluarga Mataram  akhirnya dapat bersatu lagi setelah adanya perkawinan antara Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya dengan Pramodhawardhani dari Wangsa Syailendra pada tahun 850 M. Perkawinan ini sebenarnya ditentang oleh Balaputradewa, itulah sebabnya setelah Raja Samaratungga wafat, Balaputradewa memberontak terhadap Rakai Pikatan, namun dapat dikalahkan. Balaputradewa melarikan diri ke Sumatra dan menjadi raja di Sriwijaya.
Pada masa pemerintahan Rakai Pikatan wilayah Mataram meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Baginda juga mendirikan banguna suci untuk agama Hindu dan Budha, diantaranya Candi Plaosan dan Candi Roro Jonggrang di Prambanan. 


                           




Pada masa pemerintahan Raja Balitung (896-930) banyak ditemukan prassati baik di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur. Dari hasil penelitian terhadap prasasti tersebut diketahui bahwa wilayah kekuasaan Balitung meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Prasasti hasil penemuan pada masa pemerintahan Raja Balitung yang sangat menarik adalah prasasti Canggal/Kedu karena dalam prasasti tersebut memuat silsilah raja-raja Mataram nulai dari Raja Sanjaya sampai Raja Balitung. Selain prasasti, Raja Balitung juga membangun kompleks Candi Loro Jonggrang di Prambanan. Pembangunan candi ini baru selesai pada masa pemerintahan Daksa, yaitu pengganti Balitung.

D.    Berpindahnya Pusat Pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno
Setelah Balitung memerintah Mataram, Beliau kemudian digantikan oleh Daksa, Tulodong. Sedangkan raja terakhir Kerajaan Mataram Kuno adalah Wawa (924-929). Wawa digantikan oleh menantunya yaitu Empu Sindok. Pada saat Empu Sindok berkuasa inilah pusat pemerintahan Mataram Kuno dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dengan alasan bencana alam (untuk menghindari letusan Gunung Merapi), alasan politik (untuk menghindari serangan dari Kerajaan Sri Wijaya) dan alasan ekonomi (untuk mendekati daerah yang subur).
Demikianlah Sejarah Kerajaan Mataram Kuno, yang merupakan salah satu Kerajaan besar bercorak Hindu dan Budha yang telah meninggalkan Candi Borobudur dan Candi Prambanan sebagai ikon terbesar bagi pemeluk agama Budha dan Hindu di Indonesia. Berikut ringkasan materi Kerajaan Mataram Kuno dalam bentuk animasi :


                 



Semoga bermanfaat dan sampai jumpa pada materi berikutnya, Wassalammu’alaikum Wr. Wb.