MENGENAL
CANDI
Hallo
sahabat blogger, pernahkah sahabat blogger berkunjung ke bangunan kuno
peninggalan sejarah nenek moyang kita yang masih tegar berdiri sampai sekarang?
Banyak sekali bukan bangunan kuno tersebut? Ada kraton/ istana, benteng,
gapura, biara, pemandian, candi dan lain-lain. Kali ini saya akan sedikit
berbagi tentang salah satu peninggalan sejarah yang berupa bangunan, yaitu
Candi.
Sumber : https://www.jejakpiknik.com/candi-gedong-songo/
Arti Candi
Candi sebagai bangunan tempat ibadah dari
peninggalan masa lampau yang berasal dari agama Hindu Buddha (Wikipedia).
Menurut Prof. HJ. Krom dan Dr. WF Stutterheim mengartikan candi dari asal
katanya CANDIKA GHRA. Candika (nama lain Sakti Siwa)= Dewi maut (di
Indonesia dikenal Bethari Durga = Durga Mahesa Sura Mardhini) dan GRHA = GRAHA
= GRIYA/GRIYO yang artinya rumah. Jadi Candi menurut mereka adalah rumah
untuk bethari Durga = rumah dewi maut. Di Indonesia, wujud Ciwa Durga Mahesa Sura Mardhini dapat kita jumpai di
candi Prambanan pada Candi Ciwa, yang berwujud patung yang oleh masyarakat
setempat dikenal sebagai Roro Jonggrang. Jadi pada masa klasik candi dipahami
sebagai tempat suci untuk bakti kepada para dewa. Namun dalam perkembangannya
istilah 'candi' tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat
ibadah dengan bentuk bangunan layaknya bangunan peribadatan saja. Hampir semua
situs purbakala dari masa Hindu Budha atau klasik Indonesia, baik sebagai
istana, pemandian/petirtaan, gapura, dan sebagainya, disebut dengan istilah
candi. Mari kita simak sejenak video berikut ini :
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=LFQ2n01dJO0
Fungsi Candi
Hampir semua ahli sejarah sependapat
bahwa konsep dan arsitek candi berasal dari pengaruh Hindu dari India yang
menyebar pengaruhnya hingga ke Nusantara sekitar abad ke 4 hingga abad ke 15. Pengertian
pengaruh Hindu di sini adalah untuk menyebut semua bentuk pengaruh yang berasal
dari India yang masuk ke Nusantara pada periode yang disebutkan di atas.
Pengaruh-pengaruh itu diantaranya agama/kepercayaan Hindu dan Budha dengan tata
cara ritualnya, bahasa dan tulisan (Sansekerta dan Palawa), konsep kasta dalam masyarakat (stratifikasi
sosial), sistem pemerintahan feodal dan arsitektur bangunan. Dari tempat
asalnya (India), fungsi candi merupakan bangunan suci untuk pemujaan/upacara
ritual kepada para dewa. Setibanya di Nusantara fungsi candi tidak hanya
difungsikan untuk pemujaan (bangunan suci) tetapi juga untuk tempat
perabuan (baca=kuburan) dan
sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang, seperti punden berundak-undak pada
zaman prasejarah. Dimasa kerajaan Hindu Budha berjaya ditanah air,
jenazah para raja yang diyakini sebagai titisan dewa setelah dikremasi (diperabukan=dibakar)
ditanam di candi pada suatu wadah yang disebut pripih. Dalam istilah kuno
proses ritual demikian diistilahkan dengan kata dicandikan, artinya dimakamkan
di candi. Dengan demikian bangunan
suci candi terutama berfungsi untuk pemujaan dan memuliakan arwah nenek moyang,
terutama raja dan orang terkemuka. Di dalam bangunan candi tersebut ditanam abu
jenazah dan beberapa macam benda,
misalnya potongan logam, batu akik, permata disertai beberapa sesaji.
Benda-benda tersebut dianggap sebagai lambang jasmani raja yang telah meninggal
dengan dewa penitisnya. Pripih di tanam di ruang utama candi.
Sumber: https://regional.kompas.com/read/2016/03/27/18200721/Petugas.Imbau.Warga.Tidak.Menggali.Situs.Purbakala.Boyolali
Sebagaimana kita pahami di atas,
bahwa pengertian candi di Indonesia tidak hanya dipakai untuk menyebut
peninggalan-peninggalan masa klasik yang bentuknya seperti bangunan suci tempat
ibadah/ritual saja, tetapi terdapat pula
banyak peninggalan klasik yang dapat disebut sebagai candi. Misalnya berupa
‘patirtan’ atau tempat pemandian. Tentu saja peninggalan seperti ini
dahulu difungsikan sebagai tempat mandi dan aktifitas sehari-hari seperti mandi
dan mencuci atau tempat pemandian para putri raja dan kerabatnya (contohnya Candi
Tikus, Petirtaan Gua Gajah dan Tirta Empul di Gianyar Bali). Demikian pula
bentuk candi berupa keraton dan gapura. Keraton merupakan tempat tinggal dan
pusat pemerintahan raja yang memerintah dan gapura difungsikan sebagai tempat
pintu masuk ke wilayah keraton atau tempat penting lainnya (misalnya Candi
Bajang Ratu, Candi Bentar Wringin Lawang, keduanya peninggalan Kerajaan
Majapahit). Bahkan ada pula bentuk bangunan candi yang dipakai sebagai benteng
pertahanan (misalnya Candi Ratu Boko).
Struktur Candi
Secara umum struktur candi tersusun menjadi
tiga bagian tegak (vertikal) yaitu
bagian kaki/alas, bagian tubuh/ badan dan bagian atas/ atap candi, dengan
penjelasan sebagai berikut:
1. Bagian kaki candi disebut BHURLOKA melambangkan dunia manusia
(dunia bawah=bhumi) pada umumnya berbentuk bujur sangkar dan berdiri pada alas
yang lebih tinggi daripada permukaan tanah. Pada candi Borobudur (Budha) struktur kaki terdapat di lapisan
KAMADHATU yaitu perlambang dunia yang masih dikuasai oleh kama atau
"nafsu rendah". Relief kisah Kammawibhangga terpahatkan di
dindingnya meski hanya beberapa panel yang tampak karena sebagian ada yang
tertutup tanah.
2. Bagian tubuh candi disebut BHUVARLOKA melambangkan dunia untuk
yang disucikan. Pada badan/ tubuh candi biasanya terdapat bilik tempat arca.
Pada candi Hindu, selain arca raja dalam perwujudannya sebagai dewa, di bawah
arca dibuat semacam sumur untuk meletakkan pripih. Di bagian samping kiri,
kanan dan belakang bilik utama dibuat relung-relung yang diisi arca, biasanya
arca Durga, Siwa Mahaguru dan Ganesha. Pada candi besar, relung-relung dibentuk
menjadi bilik yang lebih kecil daripada bilik utama. Bilik ini mempunyai pintu
dan tangga masuk tersendiri. Pada Candi Budha, di bilik utama tidak terdapat
pripih tetapi terdapat arca Budha yang didampingi Awalokiteswara, atau arca Tara. (Perlu diketahui pula bahwa di
beberapa candi terdapat perkecualian, misalnya Candi Borobudur, tidak mempunyai
bilik tempat arca). Pada bagian tubuh Candi Borobudur terdapat empat lantai lapisan
dengan dinding berelief yang dinamai para ahli arkeologi sebagai lapisan RUPADHATU
melambangkan dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi
masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan rupadhatu melambangkan alam antara
yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pahatan patung Budha
di lapisan ini, diletakkan di ceruk-ceruk dinding di atas selasar
3. Bagian atap candi dikenal dengan SVARLOKA yang merupakan dunia
dewa-dewa. Atap candi Hindu biasanya bertingkat 3, semakin ke atas semakin
kecil, di bagian puncak dibentuk semacam genta (lingga ratna). Tiga tingkatan
candi Hindu itu melambangkan alam bawah (alas), alam antara (badan) dan alam
atas (atap). Pada candi Budha, bagian atap candi terdapat stupa yang merupakan
ciri utamanya. Bangunan stupa ini berbentuk mangkuk terbalik dengan semacam
menhir di atasnya. Pada bangunan stupa yang masih utuh, pada puncak menhir
umumnya terdapat bangunan kecil seperti payung yang disebut cakra. Tigkatan paling atas (head) atap
candi Borobudur disebut lapisan ARUPADHATU = lapisan tidak berwujud. Tingkatan
ini berlantai dasar bundar melambangkan alam atas, simbol manusia sudah
bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai
sorga (nirwana). Patung Budha pada lapisan ini diletakkan di dalam stupa
bertutup dengan rongga-rongga berbentuk belah ketupat dan persegi. Tingkatan
tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang
terbesar dan tertinggi. Stupanya polos tanpa rongga. Struktur candi Borobudur
mengingatkan kita akan konsep awal arsitektur bangunan di masa purba Indonesia
berupa punden berundak- undak. Beberapa ahli arkeologi arsitek klasik
berpendapat bahwa struktur candi Borobudur mendapatkan pengaruh kekuatan ‘lokal
genius’nenek moyang bangsa Indonesia di masa purba itu.
Pada awalnya stupa digunakan untuk
menyimpan abu jenazah Sang Budha. Kemudian digunakan untuk menyimpan abu
jenazah para bhiksu dan orang suci (arhat) terkemuka atau untuk menyimpan
benda-benda suci Sang Budha, bikhsu atau arhat terkemuka. Dalam
perkembangannya, stupa digunakan untuk peringatan tempat-tempat suci dalam
kehidupan Sang Budha dan juga sebagai lambang agama Budha. Stupa untuk
menyimpan abu jenazah Sang Budha dan bhiksu atau arhat disebut Dhatugarbha. Sebagai lambang suci, stupa
itulah yang kemudian menjadi benda pujaan yang disebut Caitya.
Berikut adalah gambar penampang/ bagian-bagian candi Hindu:
Sumber : http://iraganean.blogspot.com/2012/04/sekilas-tentang-candi.html
Struktur Candi Budha (Borobudur) :
Sumber :
Perbedaan Candi Jawa Tengah (Bagian Utara dan Selatan) dengan Candi Jawa Timur
Pembangunan sebuah candi sebenarnya
erat kaitannya dengan alam pikiran dan sistem tata pemerintahan kerajaan
pembangun candi. Candi, ada yang didirikan hanya sebuah, ada juga yang dibangun
berkelompok. Kelompok atau komplek candi terdiri atas candi induk (yakni candi yang terbesar) dan candi pewara (yakni candi kecil yang dibangun mengelilingi/ di
sekitar candi induk). Pada kelompok candi Jawa Tengah bagian selatan, candi
pewara teratur rapi dan berjajar mengelilingi candi induk. Pada kelompok candi
Jawa Tengah bagian utara, candi pewara mengelilingi candi induk tetapi letaknya
tidak teratur. Bahkan candi pewara merupakan kelompok candi tersendiri dengan
letak tidak beraturan juga.
Dari susunan pengelompokan candi kita dapat menyimpulkan bahwa susunan pengelompokan candi Jawa Tengah
selatan yang menjadi wilayah kekuasaan keluarga/ Dinasti Syailendra memiliki
sistem pemerintahan feodal/ terpusat. Dimana pemerintah pusat memilki kekuatan
yang sangat besar bagi kerajaan-kerajaan di bawahnya. Sedangkan Jawa Tengah
utara yang menjadi wilayah kekuasaan keluarga/ Dinasti Sanjaya, memliki sistem
pemerintahan yang federal, demokratis. Kerajaan bawahan diberi hak otonomi
untuk menentukan nasibnya sendiri. Tidak harus tergantung dari pemerintah
pusat. Hal itu bisa dilihat dari susunan candi-candi pewaranya.
Bagaimana dengan candi Jawa Tengah
dan Jawa Timur? Pada prinsipnya berdasarkan fungsi dan struktur candi, tidak
terdapat perbedaan antara candi Jawa Tengah dengan candi Jawa Timur. Tetapi jika dilihat dari segi fisik bagunannya
(istilah ini sering disebut dengan
langgam), dan cara membaca relief yang terpahat pada candi, ternyata terdapat
perbedaan.
Sekarang coba kita amati perbedaan
antara Candi Jawa Tengah dengan Candi Jawa Timur. Perbedaan spesifik candi di kedua wilayah itu
diantaranya adalah;
1. Dari cara masuk dan membaca relief.
Jika kita berkunjung ke candi di Jawa
Tengah, untuk bisa membaca cerita relief yang terpahat pada candi, dari pintu
masuk kita harus melakukan pradaksinapata
(membacanya searah dengan jarum jam).
Sedangkan pada candi-candi di Jawa Timur, dari pintu masuk kita harus melakukan
prasawiya (membacanya berlawanan arah
dengan jarum jam).
2. Dari segi bentuk candi
Secara umum candi-candi yang ada di
Jawa Tengah bentuknya terkesan tambun
(gemuk) sedangkan di Jatim lebih ramping.
3. Pada pintu (relung pintu masuk) terdapat kalamakara yang di Jawa Timur jarang dijumpai kalamakara
4. Relief yang terpahat pada dinding candi-candi di Jawa Tengah
adalah relief timbul dengan gaya naturalis sementara pada candi-candi di Jawa
Timur sedikit timbul dengan gaya impresif.
5. Di Jawa Tengah, candi induk diletakkan di tengah komplek percandian
sedangkan di Jawa Timur agak kebelakang.
6. Candi-candi di Jateng banyak yang menghadap ke timur, dan yang
berada di Jatim banyak berarah hadap ke barat.
7. Bahan baku pembuatan candi di Jawa Tengah dari batu andesit
(batuan vulkanik/batu kali) dan di Jawa Timur sebagian besar terbuat dari batu
bata (bata merah = dari tanah liat). Itulah sebabnya mengapa di Jawa Timur
lebih sedikit ditemukan candi, kerana kemungkinan bangunannya lapuk termakan
usia.
Untuk lebih jelasnya mari kita simak video berikut ini :
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=wF8JhGfXbc4
Itulah sedikit pengetahuan tentang candi, mudah-mudahan bermanfaat, setidaknya kita memperoleh pengetahuan tentang masa silam. Tentang kearifan nenek moyang bangsa Indonesia, filosofi kehidupan mereka, yang telah banyak tersiratkan di setiap panel-panel dan ornamen relief candi. Jika kita mau membaca dan memahaminya peninggalan bersejarah ini setidaknya pernah menjadi saksi kejayaan nenek moyang kita di masa silam. Apakah kita tak ingin mengetahuinya?

















