Jumat, 30 November 2018

Mengenal Candi


MENGENAL CANDI

Hallo sahabat blogger, pernahkah sahabat blogger berkunjung ke bangunan kuno peninggalan sejarah nenek moyang kita yang masih tegar berdiri sampai sekarang? Banyak sekali bukan bangunan kuno tersebut? Ada kraton/ istana, benteng, gapura, biara, pemandian, candi dan lain-lain. Kali ini saya akan sedikit berbagi tentang salah satu peninggalan sejarah yang berupa bangunan, yaitu Candi.  


Sumber : https://www.jejakpiknik.com/candi-gedong-songo/

Arti Candi
Candi sebagai bangunan tempat ibadah dari peninggalan masa lampau yang berasal dari agama Hindu Buddha (Wikipedia). Menurut Prof. HJ. Krom dan Dr. WF Stutterheim mengartikan candi dari asal katanya CANDIKA GHRA. Candika (nama lain Sakti Siwa)= Dewi maut (di Indonesia dikenal Bethari Durga = Durga Mahesa Sura Mardhini) dan GRHA = GRAHA = GRIYA/GRIYO yang artinya rumah. Jadi Candi menurut mereka adalah rumah untuk bethari Durga = rumah dewi maut. Di Indonesia, wujud Ciwa Durga  Mahesa Sura Mardhini dapat kita jumpai di candi Prambanan pada Candi Ciwa, yang berwujud patung yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Roro Jonggrang. Jadi pada masa klasik candi dipahami sebagai tempat suci untuk bakti kepada para dewa. Namun dalam perkembangannya istilah 'candi' tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah dengan bentuk bangunan layaknya bangunan peribadatan saja. Hampir semua situs purbakala dari masa Hindu Budha atau klasik Indonesia, baik sebagai istana, pemandian/petirtaan, gapura, dan sebagainya, disebut dengan istilah candi. Mari kita simak sejenak video berikut ini :


Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=LFQ2n01dJO0

Fungsi  Candi
Hampir semua ahli sejarah sependapat bahwa konsep dan arsitek candi berasal dari pengaruh Hindu dari India yang menyebar pengaruhnya hingga ke Nusantara sekitar abad ke 4 hingga abad ke 15. Pengertian pengaruh Hindu di sini adalah untuk menyebut semua bentuk pengaruh yang berasal dari India yang masuk ke Nusantara pada periode yang disebutkan di atas. Pengaruh-pengaruh itu diantaranya agama/kepercayaan Hindu dan Budha dengan tata cara ritualnya, bahasa dan tulisan (Sansekerta dan Palawa), konsep kasta dalam masyarakat (stratifikasi sosial), sistem pemerintahan feodal dan arsitektur bangunan. Dari tempat asalnya (India), fungsi candi merupakan bangunan suci untuk pemujaan/upacara ritual kepada para dewa. Setibanya di Nusantara fungsi candi tidak hanya difungsikan untuk pemujaan (bangunan suci) tetapi juga untuk tempat perabuan (baca=kuburan) dan sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang, seperti punden berundak-undak pada zaman prasejarah. Dimasa kerajaan Hindu Budha berjaya ditanah air, jenazah para raja yang diyakini sebagai titisan dewa setelah dikremasi (diperabukan=dibakar) ditanam di candi pada suatu wadah yang disebut pripih. Dalam istilah kuno proses ritual demikian diistilahkan dengan kata dicandikan, artinya dimakamkan di candi. Dengan demikian bangunan suci candi terutama berfungsi untuk pemujaan dan memuliakan arwah nenek moyang, terutama raja dan orang terkemuka. Di dalam bangunan candi tersebut ditanam abu jenazah dan beberapa  macam benda, misalnya potongan logam, batu akik, permata disertai beberapa sesaji. Benda-benda tersebut dianggap sebagai lambang jasmani raja yang telah meninggal dengan dewa penitisnya. Pripih di tanam di ruang utama candi. 

Sumber:  https://regional.kompas.com/read/2016/03/27/18200721/Petugas.Imbau.Warga.Tidak.Menggali.Situs.Purbakala.Boyolali

Sebagaimana kita pahami di atas, bahwa pengertian candi di Indonesia tidak hanya dipakai untuk menyebut peninggalan-peninggalan masa klasik yang bentuknya seperti bangunan suci tempat ibadah/ritual saja, tetapi terdapat pula  banyak peninggalan klasik yang dapat disebut sebagai candi. Misalnya berupa ‘patirtan’ atau tempat pemandian. Tentu saja peninggalan seperti ini dahulu difungsikan sebagai tempat mandi dan aktifitas sehari-hari seperti mandi dan mencuci atau tempat pemandian para putri raja dan kerabatnya (contohnya Candi Tikus, Petirtaan Gua Gajah dan Tirta Empul di Gianyar Bali). Demikian pula bentuk candi berupa keraton dan gapura. Keraton merupakan tempat tinggal dan pusat pemerintahan raja yang memerintah dan gapura difungsikan sebagai tempat pintu masuk ke wilayah keraton atau tempat penting lainnya (misalnya Candi Bajang Ratu, Candi Bentar Wringin Lawang, keduanya peninggalan Kerajaan Majapahit). Bahkan ada pula bentuk bangunan candi yang dipakai sebagai benteng pertahanan (misalnya Candi Ratu Boko).

Struktur  Candi
Secara umum struktur candi tersusun menjadi tiga bagian tegak (vertikal) yaitu bagian kaki/alas, bagian tubuh/ badan dan bagian atas/ atap candi, dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Bagian kaki candi disebut BHURLOKA melambangkan dunia manusia (dunia bawah=bhumi) pada umumnya berbentuk bujur sangkar dan berdiri pada alas yang lebih tinggi daripada permukaan tanah. Pada candi Borobudur (Budha) struktur kaki terdapat di lapisan KAMADHATU yaitu perlambang dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Relief kisah Kammawibhangga terpahatkan di dindingnya meski hanya beberapa panel yang tampak karena sebagian ada yang tertutup tanah.
2. Bagian tubuh candi disebut BHUVARLOKA melambangkan dunia untuk yang disucikan. Pada badan/ tubuh candi biasanya terdapat bilik tempat arca. Pada candi Hindu, selain arca raja dalam perwujudannya sebagai dewa, di bawah arca dibuat semacam sumur untuk meletakkan pripih. Di bagian samping kiri, kanan dan belakang bilik utama dibuat relung-relung yang diisi arca, biasanya arca Durga, Siwa Mahaguru dan Ganesha. Pada candi besar, relung-relung dibentuk menjadi bilik yang lebih kecil daripada bilik utama. Bilik ini mempunyai pintu dan tangga masuk tersendiri. Pada Candi Budha, di bilik utama tidak terdapat pripih tetapi terdapat arca Budha yang didampingi Awalokiteswara, atau arca Tara. (Perlu diketahui pula bahwa di beberapa candi terdapat perkecualian, misalnya Candi Borobudur, tidak mempunyai bilik tempat arca). Pada bagian tubuh Candi Borobudur terdapat empat lantai lapisan dengan dinding berelief yang dinamai para ahli arkeologi sebagai lapisan RUPADHATU melambangkan dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan rupadhatu melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pahatan patung Budha di lapisan ini, diletakkan di ceruk-ceruk dinding di atas selasar
3.  Bagian atap candi dikenal dengan SVARLOKA yang merupakan dunia dewa-dewa. Atap candi Hindu biasanya bertingkat 3, semakin ke atas semakin kecil, di bagian puncak dibentuk semacam genta (lingga ratna). Tiga tingkatan candi Hindu itu melambangkan alam bawah (alas), alam antara (badan) dan alam atas (atap). Pada candi Budha, bagian atap candi terdapat stupa yang merupakan ciri utamanya. Bangunan stupa ini berbentuk mangkuk terbalik dengan semacam menhir di atasnya. Pada bangunan stupa yang masih utuh, pada puncak menhir umumnya terdapat bangunan kecil seperti payung yang disebut cakra. Tigkatan paling atas (head) atap candi Borobudur disebut lapisan ARUPADHATU = lapisan tidak berwujud. Tingkatan ini berlantai dasar bundar melambangkan alam atas, simbol manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai sorga (nirwana). Patung Budha pada lapisan ini diletakkan di dalam stupa bertutup dengan rongga-rongga berbentuk belah ketupat dan persegi. Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupanya polos tanpa rongga. Struktur candi Borobudur mengingatkan kita akan konsep awal arsitektur bangunan di masa purba Indonesia berupa punden berundak- undak. Beberapa ahli arkeologi arsitek klasik berpendapat bahwa struktur candi Borobudur mendapatkan pengaruh kekuatan ‘lokal genius’nenek moyang bangsa Indonesia di masa purba itu.
Pada awalnya stupa digunakan untuk menyimpan abu jenazah Sang Budha. Kemudian digunakan untuk menyimpan abu jenazah para bhiksu dan orang suci (arhat) terkemuka atau untuk menyimpan benda-benda suci Sang Budha, bikhsu atau arhat terkemuka. Dalam perkembangannya, stupa digunakan untuk peringatan tempat-tempat suci dalam kehidupan Sang Budha dan juga sebagai lambang agama Budha. Stupa untuk menyimpan abu jenazah Sang Budha dan bhiksu atau arhat disebut Dhatugarbha. Sebagai lambang suci, stupa itulah yang kemudian menjadi benda pujaan yang disebut Caitya
Berikut adalah gambar penampang/ bagian-bagian candi Hindu:



Sumber : http://iraganean.blogspot.com/2012/04/sekilas-tentang-candi.html

Struktur Candi Budha (Borobudur) :

Sumber : 
 http://editpengetahuan.blogspot.com/2016/03/bagian-bagian-candi-borobudur.html

Perbedaan Candi Jawa Tengah  (Bagian Utara dan Selatan) dengan Candi Jawa Timur

Pembangunan sebuah candi sebenarnya erat kaitannya dengan alam pikiran dan sistem tata pemerintahan kerajaan pembangun candi. Candi, ada yang didirikan hanya sebuah, ada juga yang dibangun berkelompok. Kelompok atau komplek candi terdiri atas candi induk (yakni candi yang terbesar) dan candi pewara (yakni candi kecil yang dibangun mengelilingi/ di sekitar candi induk). Pada kelompok candi Jawa Tengah bagian selatan, candi pewara teratur rapi dan berjajar mengelilingi candi induk. Pada kelompok candi Jawa Tengah bagian utara, candi pewara mengelilingi candi induk tetapi letaknya tidak teratur. Bahkan candi pewara merupakan kelompok candi tersendiri dengan letak tidak beraturan juga.  
  
Dari susunan pengelompokan candi kita dapat menyimpulkan bahwa susunan pengelompokan candi Jawa Tengah selatan yang menjadi wilayah kekuasaan keluarga/ Dinasti Syailendra memiliki sistem pemerintahan feodal/ terpusat. Dimana pemerintah pusat memilki kekuatan yang sangat besar bagi kerajaan-kerajaan di bawahnya. Sedangkan Jawa Tengah utara yang menjadi wilayah kekuasaan keluarga/ Dinasti Sanjaya, memliki sistem pemerintahan yang federal, demokratis. Kerajaan bawahan diberi hak otonomi untuk menentukan nasibnya sendiri. Tidak harus tergantung dari pemerintah pusat. Hal itu bisa dilihat dari susunan candi-candi pewaranya.

Bagaimana dengan candi Jawa Tengah dan Jawa Timur? Pada prinsipnya berdasarkan fungsi dan struktur candi, tidak terdapat perbedaan antara candi Jawa Tengah dengan candi Jawa Timur.  Tetapi jika dilihat dari segi fisik bagunannya  (istilah ini sering disebut dengan langgam), dan cara membaca relief yang terpahat pada candi, ternyata terdapat perbedaan.
Sekarang coba kita amati perbedaan antara Candi Jawa Tengah dengan Candi Jawa Timur.  Perbedaan spesifik candi di kedua wilayah itu diantaranya adalah;
1.   Dari cara masuk dan membaca relief.
Jika kita berkunjung ke candi di Jawa Tengah, untuk bisa membaca cerita relief yang terpahat pada candi, dari pintu masuk kita harus melakukan pradaksinapata (membacanya  searah dengan jarum jam). Sedangkan pada candi-candi di Jawa Timur, dari pintu masuk kita harus melakukan prasawiya (membacanya berlawanan arah dengan jarum jam).
2.   Dari segi bentuk candi
Secara umum candi-candi yang ada di Jawa Tengah bentuknya terkesan tambun (gemuk) sedangkan di Jatim lebih ramping.
3.  Pada pintu (relung pintu masuk) terdapat kalamakara yang di Jawa Timur jarang dijumpai kalamakara
4.  Relief yang terpahat pada dinding candi-candi di Jawa Tengah adalah relief timbul dengan gaya naturalis sementara pada candi-candi di Jawa Timur sedikit timbul dengan gaya impresif.
5. Di Jawa Tengah, candi induk diletakkan di tengah komplek percandian sedangkan di Jawa Timur  agak kebelakang.
6.  Candi-candi di Jateng banyak yang menghadap ke timur, dan yang berada di Jatim banyak berarah hadap ke barat.
7. Bahan baku pembuatan candi di Jawa Tengah dari batu andesit (batuan vulkanik/batu kali) dan di Jawa Timur sebagian besar terbuat dari batu bata (bata merah = dari tanah liat). Itulah sebabnya mengapa di Jawa Timur lebih sedikit ditemukan candi, kerana kemungkinan bangunannya lapuk termakan usia.

Untuk lebih jelasnya mari kita simak video berikut ini :



Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=wF8JhGfXbc4

Itulah sedikit pengetahuan tentang candi, mudah-mudahan bermanfaat, setidaknya kita memperoleh pengetahuan tentang masa silam. Tentang kearifan nenek moyang bangsa Indonesia, filosofi kehidupan mereka, yang telah banyak tersiratkan di setiap panel-panel dan ornamen relief candi. Jika kita mau membaca dan memahaminya peninggalan bersejarah ini setidaknya pernah menjadi saksi kejayaan nenek moyang kita di masa silam. Apakah kita tak ingin mengetahuinya? 


17 komentar:

  1. Membaca sejarah memang selalu menarik..terus berkarya bu tari..

    BalasHapus
  2. Ya Bu Yustina Dian, terimakasih ya dah mampir di blog saya.

    BalasHapus
  3. Adakah perbedaan candi di Indonesia dan candi di India

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada, yang jelas dari segi fungsinya berbeda. Klu di India, candi berfungsi sebagai tempat pemujaan dewa, sedangkan di Indonesia candi berfungsi sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang bahkan makam raja/ penguasa.

      Hapus
  4. Knpa kalau d jateng candinya mnghadap ke timur, sedangkan di jatim mnghadapnya ke barat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertanyaan yang bagus. Untuk menjawab ini, ada baiknya Pak Azip juga sdh membaca blog saya tentang Kerajaan Mataram Kuno. Karena ini ada kaitan pemahaman dengan materi tersebut. Candi di Jatim menghadap ke barat, yang Jateng menghadap ke barat. Hal ini karena pembangunan candi kita mendapat pengaruh dari India, sehingga aturan pembuatannya harus sesuai dengan aturan yang baku dari sana. Masyarakat kuno percaya bahwa candi harus terletak di tempat para dewa bersemayam, sehingga mereka biasanya meletakkan candi di tempat yang tinggi. Arah timur dan barat adalah arah matahari yang merupakan lambang kesuburan dan kebahagiaan dan sumber kekuatan sehingga secara filosofi, daerah Jatim utk bisa tetap menyaksikan matahari, harus menghadap ke barat. Sedangkan daerah Jateng, utk bisa tetap menyaksikan matahari harus menghadap ke timur. Dari segi politik, ini berkaitan dengan kekuasaan Mataram Kuno, yang pada awal berdirinya ada di Jawa Tengah, kemudian dipindah oleh Mpu Sindok ke Jawa Timur. Utk tetap menghormati pendiri / raja-raja Mataram Kuno yang cikal bakalnya di Jawa Tengah, maka penerus Mataram yang ada di Jatim, jika membangun tempat pemujaan harus menghadap ke barat. Sedangkan bagi rakyat Jawa Tengah, karena pusat Mataram Kuno itu terletak di Jawa Tengah bagian Selatan, timur, maka jika mereka mendirikan candi juga harus menghadap ke timur/selatan.

      Hapus
    2. Yang Jateng ke timur, mf ada salah ketik

      Hapus
  5. mantap bu sri...secara berangsur-angsur menu coba ditambah, missal menu RPP, Silabus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mr. Melayu, mudah-mudahan bisa nambah menu lagi. Terima kasih ya sdh komen di sini.

      Hapus
  6. Hebat materinya lengkap.
    Cara mengetahui usia candi dari mana ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cara untuk mengetahui usia candi adalah
      1. bisa dilihat dari ornamen atau relief yang ada pada candi
      2. ada juga candi yang menuliskan angka tahun pembuatannya
      3. Bisa berdasarkan prasasti yang ada pada candi
      4. Dapat dilihat dari langgamnya.
      Klu itu dijelaskan satu persatu, bisa menjadi tulisan 1 artikel lagi Pak. Terima kasih ya sudah hadir di sini.

      Hapus
  7. Bagus Bu artikelnya. Bisa nambah pengetahuan tentang candi,kan kalo diSD hanya pengenalan gambar candinya saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, syukurlah klu artikel ini bermanfaat, karena kadang kita berkunjung ke candi tapi belum tahu apa makna bangunan tersebut. Padahal candi merupakan saksi sejarah, meski dia tidak bisa bicara, tetapi di sana ada gambaran kehidupan masa lampau. Terimakasih sudah berkunjung di blog ku...

      Hapus
  8. Saya pernah membaca suatu artikel bahkan ada video (ada narasinya) yang menyatakan bahwa candi borobudur itu merupakan peninggalan yang dibangun dimasa Nabi Sulaiman, itu bagaimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mempelajari sejarah memang unik dan menarik Pak Radiartono Abapihi, saking menariknya kadang sering terjadi perdebatan ya Pak. Begini Pak, untuk mengungkap sebuah data maupun fakta sejarah, kita perlu ilmu historiografi. Sejarah baru bisa diyakini kebenarannya jika ada bukti, data dan fakta yang mengarah ke sumber sejarah yang benar. Meski tidak ada sejarah yang obyektif, tetapi para sejarawan sependapat bahwa penulisan sejarah haruslah sebisa mungkin, mendekati obyektif sehingga ada istilah subyektifitas yang obyektif. Menurut saya, artikel yang Bapak maksud klu tidak salah ditulis oleh Fahmi Basya, secara keilmuan tidak dapat dibenarkan, karena dia tidak dapat menampilkan bukti-bukti sejarah yang membenarkan pendapatnya. Diantara sekian banyak bukti sejarah yang ditemukan dan bukti fisik yang bisa dilihat, semua merujuk bahwa candi Borobudur adalah peninggalan agama Budha, bukan peninggalan agama Islam. Sedangkan kalau berdasarkan keyakinan, bagi umat Islam (berdasarkan Al Qur'an dan hadist) juga tidak ada bukti yang menyebut nyebut bahwa candi Borobudur sudah berdiri sejak zaman kenabian. Jadi kalau menurut saya, artikel tersebut tidak teruji kebenarannya.

      Hapus
  9. Sy pernah lihat di youtube ttg persamaan candi di Indonesia dg candi di benua amerika. Mgkinkah kekuasaan kerajaan di tanah jawa smp di wilayah benua amerika? Mengingat suku dr papua adalah warga amerika yg pertama kali mendiami benua tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemungkinan bisa terjadi ada hubungan antara kekuasaan Jawa dengan suku Amerika, meski hanya sekedar hubungan dagang, atau sekedar singgah (saling berkunjung). Hal ini bisa dipahami karena sejak dulu, Indonesia merupakan salah satu tempat yang banyak didatangi bangsa asing baik dari masa purba (buktinya: banyak ditemukan fosil di Indonesia) maupun masa penjelajahan samudera (untuk mencari rempah-rempah). Sehingga dari hubungan tersebut terjadilah saling pengaruh antara kedua bangsa ini. Apalagi nanti di masa penjajahan Belanda, ada sebagian rakyat Jawa yang dipindahkan oleh Belanda untuk menjadi kuli perkebunan di Amerika (Suriname).Jadi ada hubungan antara Jawa dengan Amerika, sekedar sebagai teman, mitra kerja atau berinteraksi. Tetapi kalau berhubungan dengan kekuasaan, belum ada bukti sejarah atau ahli yang mampu membuktikan itu.

      Hapus