Kenangan
Kami Terhadap Arek-Arek Surabaya
Hallo
sahabat blogger, apa kabar untuk hari ini? Semoga Allah senantiasa melimpahkan
rahmatNya kepada kita semua ya? Beberapa hari yang lalu, kita sudah
memperingati hari Pahlawan bukan? Ada kegiatan apa sajakah untuk hari spesial
tersebut? Kali ini kita akan mencoba bersama-sama untuk menengok sejenak
tentang peristiwa 10 November 1945 tersebut. Semoga tulisan ini
bermanfaat ya....
Sahabat
blogger, 73 tahun yang lalu, kota Surabaya menjadi saksi terjadinya sebuah
peristiwa heroik. Pertempuran Surabaya merupakan pertempuran terbesar yang
pernah dilakukan Inggris atas nama Sekutu di Indonesia. Kejutan besar pun
dilakukan oleh rakyat Surabaya tanpa diduga oleh Inggris dan NICA (Nederland
Indies Civil Administration) Belanda, pasalnya, siapa sangka arek-arek Surabaya
yang dikira sudah tak berdaya, justru mereka bangkit seperti singa dari
belantara rimba raya. Bangkit melawan penguasa semena-mena tanpa
memperhitungkan harta dan nyawa mereka. Kemerdekaan, kedaulatan bangsa dan
negara adalah harga mati, mereka tak perduli apapun yang terjadi.
Peristiwa di Surabaya ini sebenarnya
merupakan rangkaian peristiwa yang dimulai sejak kedatangan pasukan Sekutu di
bawah panji-panji AFNEI di Jawa Timur yang dipimpin oleh Brigade 9 dari devisi
ke-23 Sekutu. Pasukan ini dipimpin oleh A.W.S Mallaby yang mendarat di Surabaya
pada tanggal 25 Oktober 1945. Sikap angkuh bertindak seperti tentara pemenang
perang dan ditunjang dengan Civil Affairs Agreement di Chequere (dekat
London) yang ditandatangani pada tanggal
24 Agustus 1945 antara Belanda dan Inggris dianggap sebagai rintisan kembalinya
penjajahan di Indonesia. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa “Inggris akan
menyerahkan pelaksanaan pemerintah sipil di Indonesia kepada Belanda.” Wajar
saja jika rakyat Surabaya menolak kedatangan Inggris atas nama Sekutu yang
dalam kenyataannya telah terjadi kerjasama antara Inggris dan Belanda untuk
menegakkkan kembali kekuasaannya di Indonesia.
Pada awalnya pemerintah Surabaya
enggan menerima kedatangan Sekutu. Tetapi untuk mendukung tugas-tugas
AFNEI di Indonesia, khususnya di
Surabaya, dibuatlah kesepakatan antara Gubernur Jawa timur R.M.T.A.Suryo dengan
Brigjend. A.W.S.Mallaby. Isi kesepakatan itu antara lain:
1. Inggris
berjanji tidak mengikutsertakan angkatan perang Belanda
2. Kedua
belah pihak menjalin kerjasama untuk menciptakan keamanan dan ketentraman
3. Akan
dibentuk kontrak biro
4. Inggris
akan segera melucuti senjata Jepang
Berdasarkan
kesepakatan di atas, Inggris diperbolehkan memasuki kota Surabaya, tetapi
ternyata Inggris mengingkarinya. Pada tanggal 26 Oktober 1945, ia serang
penjara Kalisosok serta menyebarkan pamplet-pamplet yang berisi perintah agar
rakyat Surabaya dan Jawa Timur menyerahkan senjata-senjata mereka. Sejak 27
Oktober 1945 kontak senjata tak dapat dihindarkan. Karena dikhawatirkan
peperangan ini semakin meluas maka Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh.Hatta
mengadakan perundingan. Kedua belah pihak merumuskan hasil perundingan sebagai
berikut:
1. Surat-surat
selebaran/ pamplet yang dikeluarkan Inggris (AFNEI) dianggap tidak berlaku.
2. AFNEI
mengakui keberadaan TKR dan polisi Indonesia.
3. Seluruh
kota Surabaya tidak lagi dijaga oleh AFNEI, kamp-kamp tawanan dijaga
bersama-sama antara AFNEI dan TKR.
4. Tanjung
Perak dijaga bersama AFNEI, TKR dan polisi Indonesia.
Meski sudah terjadi perundingan antara
Indonesia dengan tentara AFNEI, tetapi di berbagai tempat di kota Surabaya
kontak senjata masih sering terjadi. Insiden demi insiden sering muncul,
seperti penurunan bendera di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit) karena di
sana berkibar bendera Belanda dan rencananya hotel tersebut mau dijadikan
markasnya tentara NICA Belanda. Sontak saja arek-arek Surabaya tidak terima.
Dengan bertaruh nyawa, dirobeklah bendera Belanda agar berganti dengan bendera
Indonesia. Kemudian pertemputan sengit yang terjadi di Gedung Bank Internatio
di Jembatan Merah selama 3 hari yaitu 28-30 Oktober 1945. Gedung ini dikepung
oleh pasukan pemuda yang menuntut agar A.W.S. Mallaby menyerah, tetapi ditolak.
Begitu sengitnya pertempuran ini, sampai akhirnya Mallaby ditemukan tewas
tertusuk bayonet dan bambu runcing. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 30
Oktober 1945.
Dengan tewasnya Mallaby, pihak Inggris
memperingatkan rakyat Surabaya dan meminta pertanggungjawaban. Arek-arek
Surabaya diminta melapor ke tempat-tempat yang telah ditentukan Inggris dengan
menyerahkan senjata mereka. Inggris mengancam akan menghancurkan rakyat
Surabaya jika mereka tidak menyerah dan tidak mengindahkan seruan tersebut.
Ultimatum Inggris yang bermakna balas dendam terhadap tewasnya Mallaby ini
secara resmi ditolak oleh rakyat Surabaya melalui pernyataan Gubernur Suryo.
Pertempuran di Surabaya memasuki babak
baru untuk ikut menentukan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam
mempertahankan kemerdekaan. Ultimatum terakhir dikeluarkan oleh Mansergh pada
tanggal 9 November 1945 yang isinya meminta rakyat dan pemuda angkat tangan
serta menyerahkan senjatanya sampai batas waktu pukul 06.00 tanggal 10 November
1945. Ultimatum ini tidak main-main karena didukung oleh segenap kekuatan
Sekutu yang ada di kota Surabaya. Reaksi rakyat Surabaya terhadap ultimatum ini
adalah “merdeka atau mati”. Rakyat Surabaya menolak ultimatum tersebut dan demi
kemerdekaan, meletuslah pertempuran heroik di Surabaya pada tanggal 10 November
1945.
Pertempuran heroik ini berlangsung
hampir 3 minggu. Dalam pertempuran tersebut, melalui siaran radio Bung Tomo
membakar semangat arek-arek Surabaya. Pidato Bung Tomo ini dapat ditangkap di
beberapa pelosok tanah air dan luar negeri dengan dibantu oleh Ktut Tantry, orang Amerika kelahiran Inggris
yang bersimpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia, sehingga pidato Bung Tomo
tersebut dapat dipancarkan ke seluruh dunia.
Gambar Bung Tomo yang baru mengobarkan semangat rakyat Surabaya
Pertempuran 10 November berdampak
luas di kalangan internasional bahkan masuk dalam agenda Dewan Keamanan PBB
pada waktu bersidang di London tanggal 7-13 Februari 1946 yang dibicarakan
tanpa hadirnya wakil dari Indonesia. Bahkan karena heroiknya pertempuran pada
tanggal 10 November ini ditetapkan sebagai Hari Pahlawan dengan Surat Keputusan
3 menteri yaitu Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan
Menteri Sosial Nomor 11 Tahun 1975;
No.6/U/1975, No.Huk. 3-1-26/56 tanggal 29 April 1975.
Arek-arek Surabaya berhasil
membuktikan bahwa kemerdekaan adalah harga mati. Tidak perduli mereka harus
kehilangan harta benda bahkan nyawa mereka sekalipun, demi tegaknya NKRI.
Semangat juang mereka, pantang menyerah, tanpa pamrih untuk mengharumkan nama
bangsa dan negaranya patut dihargai dan diberikan apresiasi yang tinggi.
Sekarang, setelah 73 tahun peristiwa
itu berlalu, kita tidak perlu lagi mengangkat senjata untuk bangsa dan negara
ini, tetapi kita perlu mengangkat derajat bangsa dan negara ini dengan
menanamkan pendidikan karakter kebangsaan terhadap para generasi muda. Jangan
biarkan perjuangan para pahlawan yang telah bertaruh nyawa demi tegaknya sang
saka, demi keharuman bangsa dan negara menjadi sia-sia. Berusaha sekuat tenaga
mengisi kemerdekaan ini dengan semangat kerja keras, pantang meyerah, kerja
sama, bahu membahu demi kejayaan negeri tercinta, Indonesia. Bangsa yang besar
adalah bangsa yang dapat menghargai jasa para pahlawannya. Semoga Indonesia
dengan semua rakyatnya adalah bangsa yang besar. Selamat jalan pahlawanku, restui
kami untuk meneruskan perjuanganmu. Biarlah peristiwa 10 November kala itu
menjadi kenangan kami generasi baru ini untuk tetap menghargai jasa-jasamu.
Semangat juang arek-arek Surabaya biarlah membara di dada kami untuk tetap
menjaga Ibu Pertiwi, bumi kelahiran kami, tanah tumpah darah kami, INDONESIA.
Arek-arek Surabaya, perjuanganmu adalah sumber inspirasi bagi kami.
Untuk lebih menambah semangat mari kita simak pidato Bung Tomo berikut ini :
Untuk lebih menambah semangat mari kita simak pidato Bung Tomo berikut ini :
Semoga bermanfaat dan silahkan sahabat blogger bisa mengerjakan quis peristiwa ini di pertemuan berikutnya ya...., sampai jumpa !!


Apa yang membuat Bung Tomo mampu mengobarkan semangat jihad dan kepahlawanan arek-arek Suroboyo?
BalasHapusPanggilan jiwa patriotisme dan rasa kebangsaan yang dalam terhadap NKRI tercinta agar tidak diremehkan dan dipandang rendah oleh bangsa lain yang ingin menjajah kembali Indonesia. Apalagi sebagai tokoh pelopor lahirnya nasionalisme Indonesia, Beliau merasa terpanggil untuk memegang teguh jalan kebenaran dari Allah untuk memepertahankan kemerdekaan ini.
BalasHapusDemikian Pak Sejahtera Dunia Akhirat, terimakasih ya sdh berkenan hadir.