Selasa, 13 November 2018

Peristiwa 10 November


                  Kenangan Kami Terhadap Arek-Arek Surabaya

Hallo sahabat blogger, apa kabar untuk hari ini? Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmatNya kepada kita semua ya? Beberapa hari yang lalu, kita sudah memperingati hari Pahlawan bukan? Ada kegiatan apa sajakah untuk hari spesial tersebut? Kali ini kita akan mencoba bersama-sama untuk menengok sejenak tentang peristiwa 10 November 1945 tersebut. Semoga tulisan ini bermanfaat ya....

Sahabat blogger, 73 tahun yang lalu, kota Surabaya menjadi saksi terjadinya sebuah peristiwa heroik. Pertempuran Surabaya merupakan pertempuran terbesar yang pernah dilakukan Inggris atas nama Sekutu di Indonesia. Kejutan besar pun dilakukan oleh rakyat Surabaya tanpa diduga oleh Inggris dan NICA (Nederland Indies Civil Administration) Belanda, pasalnya, siapa sangka arek-arek Surabaya yang dikira sudah tak berdaya, justru mereka bangkit seperti singa dari belantara rimba raya. Bangkit melawan penguasa semena-mena tanpa memperhitungkan harta dan nyawa mereka. Kemerdekaan, kedaulatan bangsa dan negara adalah harga mati, mereka tak perduli apapun yang terjadi.
            Peristiwa di Surabaya ini sebenarnya merupakan rangkaian peristiwa yang dimulai sejak kedatangan pasukan Sekutu di bawah panji-panji AFNEI di Jawa Timur yang dipimpin oleh Brigade 9 dari devisi ke-23 Sekutu. Pasukan ini dipimpin oleh A.W.S Mallaby yang mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Sikap angkuh bertindak seperti tentara pemenang perang dan ditunjang dengan Civil Affairs Agreement di Chequere (dekat London)  yang ditandatangani pada tanggal 24 Agustus 1945 antara Belanda dan Inggris dianggap sebagai rintisan kembalinya penjajahan di Indonesia. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa “Inggris akan menyerahkan pelaksanaan pemerintah sipil di Indonesia kepada Belanda.” Wajar saja jika rakyat Surabaya menolak kedatangan Inggris atas nama Sekutu yang dalam kenyataannya telah terjadi kerjasama antara Inggris dan Belanda untuk menegakkkan kembali kekuasaannya di Indonesia.
            Pada awalnya pemerintah Surabaya enggan menerima kedatangan Sekutu. Tetapi untuk mendukung tugas-tugas AFNEI  di Indonesia, khususnya di Surabaya, dibuatlah kesepakatan antara Gubernur Jawa timur R.M.T.A.Suryo dengan Brigjend. A.W.S.Mallaby. Isi kesepakatan itu antara lain:
1.      Inggris berjanji tidak mengikutsertakan angkatan perang Belanda
2.      Kedua belah pihak menjalin kerjasama untuk menciptakan keamanan  dan ketentraman
3.      Akan dibentuk kontrak biro
4.      Inggris akan segera melucuti senjata Jepang
Berdasarkan kesepakatan di atas, Inggris diperbolehkan memasuki kota Surabaya, tetapi ternyata Inggris mengingkarinya. Pada tanggal 26 Oktober 1945, ia serang penjara Kalisosok serta menyebarkan pamplet-pamplet yang berisi perintah agar rakyat Surabaya dan Jawa Timur menyerahkan senjata-senjata mereka. Sejak 27 Oktober 1945 kontak senjata tak dapat dihindarkan. Karena dikhawatirkan peperangan ini semakin meluas maka Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh.Hatta mengadakan perundingan. Kedua belah pihak merumuskan hasil perundingan sebagai berikut:
1.      Surat-surat selebaran/ pamplet yang dikeluarkan Inggris (AFNEI) dianggap tidak berlaku.
2.      AFNEI mengakui keberadaan TKR dan polisi Indonesia.
3.      Seluruh kota Surabaya tidak lagi dijaga oleh AFNEI, kamp-kamp tawanan dijaga bersama-sama antara AFNEI dan TKR.
4.      Tanjung Perak dijaga bersama AFNEI, TKR dan polisi Indonesia.
Meski sudah terjadi perundingan antara Indonesia dengan tentara AFNEI, tetapi di berbagai tempat di kota Surabaya kontak senjata masih sering terjadi. Insiden demi insiden sering muncul, seperti penurunan bendera di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit) karena di sana berkibar bendera Belanda dan rencananya hotel tersebut mau dijadikan markasnya tentara NICA Belanda. Sontak saja arek-arek Surabaya tidak terima. Dengan bertaruh nyawa, dirobeklah bendera Belanda agar berganti dengan bendera Indonesia. Kemudian pertemputan sengit yang terjadi di Gedung Bank Internatio di Jembatan Merah selama 3 hari yaitu 28-30 Oktober 1945. Gedung ini dikepung oleh pasukan pemuda yang menuntut agar A.W.S. Mallaby menyerah, tetapi ditolak. Begitu sengitnya pertempuran ini, sampai akhirnya Mallaby ditemukan tewas tertusuk bayonet dan bambu runcing. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 Oktober 1945.
          Dengan tewasnya Mallaby, pihak Inggris memperingatkan rakyat Surabaya dan meminta pertanggungjawaban. Arek-arek Surabaya diminta melapor ke tempat-tempat yang telah ditentukan Inggris dengan menyerahkan senjata mereka. Inggris mengancam akan menghancurkan rakyat Surabaya jika mereka tidak menyerah dan tidak mengindahkan seruan tersebut. Ultimatum Inggris yang bermakna balas dendam terhadap tewasnya Mallaby ini secara resmi ditolak oleh rakyat Surabaya melalui pernyataan Gubernur Suryo.
          Pertempuran di Surabaya memasuki babak baru untuk ikut menentukan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Ultimatum terakhir dikeluarkan oleh Mansergh pada tanggal 9 November 1945 yang isinya meminta rakyat dan pemuda angkat tangan serta menyerahkan senjatanya sampai batas waktu pukul 06.00 tanggal 10 November 1945. Ultimatum ini tidak main-main karena didukung oleh segenap kekuatan Sekutu yang ada di kota Surabaya. Reaksi rakyat Surabaya terhadap ultimatum ini adalah “merdeka atau mati”. Rakyat Surabaya menolak ultimatum tersebut dan demi kemerdekaan, meletuslah pertempuran heroik di Surabaya pada tanggal 10 November 1945.
          Pertempuran heroik ini berlangsung hampir 3 minggu. Dalam pertempuran tersebut, melalui siaran radio Bung Tomo membakar semangat arek-arek Surabaya. Pidato Bung Tomo ini dapat ditangkap di beberapa pelosok tanah air dan luar negeri dengan dibantu oleh  Ktut Tantry, orang Amerika kelahiran Inggris yang bersimpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia, sehingga pidato Bung Tomo tersebut dapat dipancarkan ke seluruh dunia. 
                 Gambar Bung Tomo yang baru mengobarkan semangat rakyat Surabaya

Pertempuran 10 November berdampak luas di kalangan internasional bahkan masuk dalam agenda Dewan Keamanan PBB pada waktu bersidang di London tanggal 7-13 Februari 1946 yang dibicarakan tanpa hadirnya wakil dari Indonesia. Bahkan karena heroiknya pertempuran pada tanggal 10 November ini ditetapkan sebagai Hari Pahlawan dengan Surat Keputusan 3 menteri yaitu Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Sosial Nomor 11 Tahun  1975; No.6/U/1975, No.Huk. 3-1-26/56 tanggal 29 April 1975.
          Arek-arek Surabaya berhasil membuktikan bahwa kemerdekaan adalah harga mati. Tidak perduli mereka harus kehilangan harta benda bahkan nyawa mereka sekalipun, demi tegaknya NKRI. Semangat juang mereka, pantang menyerah, tanpa pamrih untuk mengharumkan nama bangsa dan negaranya patut dihargai dan diberikan apresiasi yang tinggi.
          Sekarang, setelah 73 tahun peristiwa itu berlalu, kita tidak perlu lagi mengangkat senjata untuk bangsa dan negara ini, tetapi kita perlu mengangkat derajat bangsa dan negara ini dengan menanamkan pendidikan karakter kebangsaan terhadap para generasi muda. Jangan biarkan perjuangan para pahlawan yang telah bertaruh nyawa demi tegaknya sang saka, demi keharuman bangsa dan negara menjadi sia-sia. Berusaha sekuat tenaga mengisi kemerdekaan ini dengan semangat kerja keras, pantang meyerah, kerja sama, bahu membahu demi kejayaan negeri tercinta, Indonesia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa para pahlawannya. Semoga Indonesia dengan semua rakyatnya adalah bangsa yang besar. Selamat jalan pahlawanku, restui kami untuk meneruskan perjuanganmu. Biarlah peristiwa 10 November kala itu menjadi kenangan kami generasi baru ini untuk tetap menghargai jasa-jasamu. Semangat juang arek-arek Surabaya biarlah membara di dada kami untuk tetap menjaga Ibu Pertiwi, bumi kelahiran kami, tanah tumpah darah kami, INDONESIA. Arek-arek Surabaya, perjuanganmu adalah sumber inspirasi bagi kami.
Untuk lebih menambah semangat mari kita simak pidato Bung Tomo berikut ini :




Semoga bermanfaat dan silahkan sahabat blogger bisa mengerjakan quis peristiwa ini di pertemuan berikutnya ya...., sampai jumpa !!


2 komentar:

  1. Apa yang membuat Bung Tomo mampu mengobarkan semangat jihad dan kepahlawanan arek-arek Suroboyo?

    BalasHapus
  2. Panggilan jiwa patriotisme dan rasa kebangsaan yang dalam terhadap NKRI tercinta agar tidak diremehkan dan dipandang rendah oleh bangsa lain yang ingin menjajah kembali Indonesia. Apalagi sebagai tokoh pelopor lahirnya nasionalisme Indonesia, Beliau merasa terpanggil untuk memegang teguh jalan kebenaran dari Allah untuk memepertahankan kemerdekaan ini.
    Demikian Pak Sejahtera Dunia Akhirat, terimakasih ya sdh berkenan hadir.

    BalasHapus