Merapi dalam Kajian Historis
Sumber : http://surabaya.tribunnews.com/2018/05/11
Merapi, bukan hanya namanya yang mengandung api, tetapi gunung ini merupakan salah satu gunung berapi teraktif di dunia. Letusan merapi tak hanya menghancurkan alam yang ada di sekitarnya, tetapi juga menghilangkan nyawa bahkan harapan manusia yang tinggal di lerengnya. Sejarah telah mencatat bahwa letusan Merapi memakan ribuan bahkan ratusan ribu jiwa. Memang di sisi lain, setelah Merapi memuntahkan semua isi perutnya membuat tanah di sekitarnya menjadi subur. Tetapi sudahkah kita memperhitungkan berapa keuntungan dan kerugiannya jika tinggal di lerengnya? Apakah kita sudah siap menghadapi bencana yang ditimbulkannya?
Sejarahpun telah mencatat bahwa Merapi telah lama menjadi “momok” bagi masyarakat di sekitarnya. Dengan kekuasaan Sang Pencipta, orang tak bisa menganggap remeh kekuatan Merapi jika sudah berulah, termasuk Mpu Sindok, raja pertama dari Wangsa Isyana inipun harus berfikir seribu kali unutk tetap tinggal di lereng Merapi.
Di tempo dulu, Gunung Merapi merupakan salah satu wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno. Kesuburan tanahnya membuat sebagian besar penduduk Mataram berdiam di lerengnya. Bahkan kehidupan yang “gemah ripah loh jinawi” itu membuat Mataram Kuno merupakan salah satu kerajaan yang banyak mewariskan peninggalan-peninggalan megah dan mempesona dunia. Dari Candi Borobudur, Prambanan, Kalasan, Plaosan, Sari, Sambisari, Sewu, Mendut, Pawon, Ratu Boko dan masih banyak lagi lainnya, yang tersebar dari Yogyakarta, Magelang bahkan sampai Semarang.
Akan tetapi, ketakutan akan bencana letusan Gunung Merapi, juga menjadi salah satu alasan mengapa Mpu Sindok pada tahun 929 M memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, setelah sebelumnya Mataram diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Pangkajaya Dyah Wawa. Semula Mpu Sindok hanyalah seorang Mahamantri I Hino yang membantu Wawa dalam memerintah Mataram. Tetapi akhirnya Mpi Sindok dijadikan menantu oleh Wawa.
Pemerintahan Wawa sangatlah singkat dan berakhir secara tiba-tiba (924-929 M). Menurut hasil analisis ahli geologi sejarah, Reinout Willem Van Bemmelen, pada tahun 929 M Mataram tertimpa oleh bencana alam dari letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat. Pusat kerajaan hancur luluh (pralaya) dan konon wahyu kraton lenyap bersama letusan Merapi. Tak ada lagi harapan untuk tetap bertahan di lereng Merapi, bahkan Candi Borobudur yang besar dan megah itupun tertimbun oleh letusannya sampai sejauh 30 km di sebelah barat Merapi (meskipun pendapat ini pada akhirnya banyak ditolak karena tak ada bukti sejarah yang otentik). Namun pada akhirnya peneliti Merapi sepakat bahwa erupsi Merapi dalam waktu yang lama telah menelan kehidupan rakyat Mataram Kuno.
Mpu Sindok yang menggantikan tahta Raja Wawa, beserta para bangsawan lainnya, memindahkan pusat pemerintahan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur di daerah Kanjuruhan. Daerah ini memang sudah tunduk kepada Mataram sejak lama. Di sinilah Mpu Sindok membangun ibu kota baru Kerajaan Medang (bukan lagi Mataram Kuno) Di Tamwlang pada tahun 929 M itu juga. Sejak saat itu berakhirlah pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah yang telah berlangsung kurang lebih 197 tahun (732-929) di Jawa Tengah.
Pindahnya pusat pemerintahan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur memang bukan hanya karena faktor alam saja, tetapi ada juga karena faktor politik dan ekonomi. Dari faktor politik, Mpu Sindok sadar betul akan ancaman dari Kerajaan Sriwijaya, karena tidak menutup kemungkinan bahwa keturunan Mataram asli (Balaputradewa) pasti akan menyerang Mataram. Itulah sebabnya ia perlu menghindari serangan tersebut dengan jalan berpindah.
Sedangkan dari faktor ekonomi, Jawa Timur dipandang lebih strategis, karena disamping bisa mengembangkan ekonomi agraris juga bisa mengembangkan segi perdagangan karena Jawa Timur dekat dengan pelabuhan-pelabuhan penting yang ramai, seperti Tuban, Gresik dan Surabaya.
Tetapi diantara ketiga alasan tersebut yang paling mendesak untuk dilakukan adalah untuk menghindari letusan Merapi. Sebuah fenomena alam yang yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apapun alasannya, Mpu Sindok tak bisa menganggap remeh akan bencana Merapi. Itu sebabnya ia lakukan tindakan tanggap cepat bencana karena tak ingin sejarah Mataram Kuno yang besar itu (yang kini telah menjadi Kerajaan Medang), kembali luluh lantak oleh letusan Merapi yang dahsyat.
Nah, kini penduduk di lereng Merapi harus bisa mengambil keputusan yang tepat. Jika orang-orang di jaman dulu saja sudah berfikir sejauh itu akan pentingnya menghindari letusan Merapi, bagaimana dengan manusia modern kini? Yang notabene mereka justru lebih pandai dan lebih canggih dalam menakhlukkan dan membaca fenomena alam. Adakah sebuah harapan yang lebih besar untuk tetap tinggal di dekat Merapi, melihat kenyataan yang demikian? Sudahkah gerakan cepat tanggap bencana itu kita lakukan untuk menjawab tantangan alam tersebut? Mari kita simak sejenak erupsi Merapi berikut ini :

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=Lcr81815dno
Secara ekonomi, lereng Merapi memang sangat menjanjikan untuk dijadikan sebagai tempat untuk mencari hidup dan penghidupan. Apapun yang ditanam di sana pasti memberikan harapan lebih untuk bisa dipetik hasilnya secara melimpah. Namun kita tetap harus ingat bahwa bahaya Merapi jauh lebih besar, kecuali kita sudah mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Senior Research Fellow Earth Observatorry of Singapore di Nanyang Technological University, A.Ratdomopurbo (sebagaimana tercatat dalam berbagai dokumen kegunungapian) mengatakan bahwa dalam kurun 1.000 tahun, Merapi meletus secara eksplosif yang berlanjut sampai masa modern. Selama masa kolonial Belanda saja Journal of Vulcanology and Geothermal Reseacrh melaporkan ada 6 kali letusan besar Merapi, yaitu tahun 1587, 1672, 1768, 1822, 1872 dan 1930. Bahkan letusan tahun 1822 termasuk letusan yang sangat besar dengan jarak awan panas mencapai 10-15 km, merata di Kali Blongkang, Senowo, Apu, Trising, Gendol dan Woro, termasuk yang di tahun 2010 menjadi lapangan Golf Cangkringan.
Letusan yang disebabkan hancurnya kubah lava yang memunculkan awan panas sejauh 13 km terjadi pada tahun 1930. Letusan itu mengubur 13 desa dengan endapan lahar setebal 10 meter. Letusan berikutnya terjadi pada tahun 1984, 1992, 1994, dan 2006 dengan jarak jangkau awan panas sekitar 7-8 km. Meski tergolong letusan kecil, tetapi tetap memakan korban (Kompas.com, 12 November 2010).
Meski banyak masyarakat yang tinggal di lereng Merapi menganggap bahwa letusan Merapi adalah hal yang sudah biasa yang memberi harapan akan masa depan yang lebih baik, karena kesuburan tanahnya, ketersediaan rumput, sayur-sayuran yang menghijau dan padi yang padat berisi, serta pasir yang melimpah dan air yang cukup memeberi kehidupan, namun kita tetap harus waspada.
Letusan di tahun 2010 telah banyak mengajarkan kepada kita semua akan segala sendi kehidupan yang ada. Semua harus bertindak cepat dan tepat untuk membuktikan teori Toynbee “challenge and respons” jika tak ingin tergilas oleh lahar dan lava Merapi. Kita harus bisa belajar dari sejarah dan pandai-pandainya memetik hikmah dari semua peristiwa. Ajaran tentang nilai-nilai kemanusiaan, kedekatan dengan alam dan Sang Khaliq, menjadi hikmah tersendiri di balik letusan Merapi.
Dibutuhkan keberanian dan pemikiran yang luar biasa untuk bisa menaruh harapan akan kenyataan Merapi. Semoga harapan dan kenyataan itu bisa membawa kebahagiaan untuk saudara-saudara kita yang sudah menentukan pilihannya untuk tetap bertahan di lereng-lereng Merapi dan sekitarnya. Amiin Ya Robb.


Bagus Materinya, Makasih bu sangat membantu
BalasHapusSama-sama Bu Uswah Muzayanah, atas partisipasinya di blog saya. Berkat panjenengan dan Seamolec saya harus banyak belajar untuk memperbaiki blog ini. Terima kasih.
BalasHapus