Assalamu'alaikum Wr.Wb. Hallo
sahabat blogger, apa kabar? Selalu sehat dan tetap semangat ya? Kali ini saya
akan berbagi mengenai kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia, salah satunya adalah
Kerajaan Mataram Kuno. Jangan salah sahabatku, Kerajaan Mataram tidak hanya
satu lho, karena ada Kerajaan Mataram Kuno (Lama), dan ada kerajaan Mataram
Islam. Kali ini kita mempelajari tentang Kerajaan Mataram Kuno. Selamat
menyimak!
KERAJAAN MATARAM KUNO
Sebelum budaya India masuk ke
Indonesia, masyarakat belum mengenal pemerintahan kerajaan. Kala itu masyarakat
dipimpin oleh seseorang yang disebut
kepala suku. Dengan masuknya budaya India, kedudukan kepala suku diganti oleh
seorang raja, dan pedesaan berubah menjadi kerajaan. Dengan demikian muncullah
kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha di Indonesia. Kerajaan-kerajaan
ini mulai berkembang sejak abad ke 5 Masehi. Salah satunya adalah Kerajaan
Mataram Kuno yang berkembang abad ke-8 Masehi dan berpusat di Medang Kamulan
Kerajaan Mataram Kuno adalah kerajaan yang bercorak Hindu
A. Sumber
Sejarah Kerajaan Mataram Kuno
Sumber
sejarah untuk mempelajari tentang Kerajaan Mataram Kuno dapat
diketahui dari adanya:
1.
Prasasti
Canggal
Prasasti ini ditemukan di
Gunung Wukir, Desa Canggal Kecamatan Kadiluwih. Letaknya di sebelah barat kota
Magelang. Prasasti Canggal berangka tahun 732M berhuruf Pallawa dan berbahasa
Sansekerta.
2.
Prasasti
Balitung / Mantyasih/ Kedu
Prasasti Balitung dibuat
pada masa pemerintahan Raja Balitung dan ditemukan di Mantyasih dekat Kedu yang
berangka tahun 907. Prasasti ini berupa lempengan tembaga yang berisi silsilah
dinasti Sanjaya. Isi dari prasasti ini antara lain berbunyi: “Rahyangta
Rumuhun Ri Medang Ri Poh Pitu”, yang artinya dewa-dewa atau nenek moyang kami yang telah meninggal di Medang di Poh
Pitu.
Silsilah Dinasti Sanjaya
itu adalah sebagai berikut :
1. Sri
Maharaja Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (732-760)
2. Sri
Maharaja Rakai Panangkaran (760-780)
3. Sri
Maharaja Rakai Panunggalan (780-800)
4. Sri
Maharaja Rakai Warak (800-820)
5. Sri
Maharaja Rakai Garung (820-840)
6. Sri
Maharaja Rakai Pikatan (840-863)
7. Sri
Maharaja Rakai Kayuwangi (863-882)
8. Sri
Maharaja Rakai Watuhumalang (882-898)
Karena prasasti ini
ditemukan di Mantyasih daerah Kedu, makanya disebut juga prasasti Mantyasih
atau prasasti Kedu.
3.
Prasasti
Kalasan
Dalam prasasti yang
berangka tahun 778 M ini disebutkan nama lengkap Raja Panangkaran yaitu
Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Dengan demikian Rakai
Panangkaran berasal dari keluarga Syailendra, begitu pula Sanjaya. Dengan kata
lain keluarga Syailendra adalah Sanjaya dan keturunannya. Hanya pada masa pemerintahan
Sanjaya, raja memeluk agama Hindu. Begitu juga pada masa pemerintahan Raja
Panangkaran, ia juga beragama Hindu, tetapi pada masa pemerintahannya di Jawa
Tengah mulai berkembang agama Budha. Bahkan Rakai Panangkaran pun membantu
perkembangan agama Budha.
Prasasti Kalasan
menyebutkan bahwa para pendeta Budha memohon ijin kepada raja untuk mendirikan bangunan
suci untuk memuja Dewi Tara, dewa yang disembah oleh para pemeluk agama Budha.
Permohonan ijin para pendeta ini dikabulkan oleh raja, bahkan raja memberikan
Desa Kalasan untuk mendirikan bangunan suci tersebut. Bangunan suci itulah yang
kemudian disebut Candi Kalasan yang
terletak di sebelah timur Yogyakarta. Setelah Panangkaran wafat, keluarga
Syailendra di Mataram pecah menjadi dua.
4.
Prasasti
Kelurak
Prasasti ini berangka
tahun 782 M, ditulis dengan huruf
Pranagari dan berhasa Sansekerta. Dalam prasasti tersebut dijelaskan bahwa
seorang raja yang bernama Indra
membuat bangunan suci dan arca Manjusri.
Mungkin sekali yang dimaksud adalah bangunan Candi Sewu sebelah utara Candi
Prambanan.
5.
Prasasti
Karang Tengah/ Kayumwungan
Prasasti Kayumwungan adalah sebuah prasasti pada lima
buah penggalan batu yang ditemukan di Dusun Karangtengah, Kabupaten Temanggung,
Propinsi Jawa Tengah sehingga lebih dikenal dengan prasasti Karangtengah.
Prasasti ini ditulis dengan aksara Jawa Kuno dan menggunakan dua bahasa. Baris
1 – 24 berbahasa sansekerta, baris selanjutnya ditulis Jawa Kuno. Masing-masing
bahasa menunjuk angka tahun 746 Saka atau 824 Masehi. Ketika ditemukan,
prasasti terpecah menjadi lima fragmen, yaitu a, b, c, d dan e. Bagian a, c,
dan d sudah tidak ditemukan lagi. Bagian c sempat dialih aksarakan oleh J.G de
Casparis. Koleksi ini adalah fragmen yang tersisa, yaitu fragmen b (D27) dan
fragmen e(D34) yang saat ini disimpan di Museum nasional Jakarta.
Isi tulisan pada bagian berbahasa Sansekerta adalah
tentang seorang raja bernama Samaratungga. Anaknya bernama Pramodawardhani
mendirikan bangunan suci Jinalaya serta bangunan Wenuwana (Venuvana_sansekerta,
yang berarti hutan bambu). Untuk menempatkan abu jenazah “Raja Mega”; sebutan
untuk Dewa Indra. Mungkin yang dimaksud adalah Raja Indra atau Dharanindra dari
keluarga Syailendra.
Bagian Jawa Kuno menyebutkan bahwa pada 10 Kresnapaksa
Bulan Jyestha Tahun 746 Saka (824 M), Rakai Patapan pu Palar meresmikan tanah
sawah di Kayumwungan menjadi Tanah Sima atau tanah perdikan (daerah bebas
pajak). Casparis mengaitkan bangunan Wenuwana ini dengan Candi Mendut,
sedangkan Soekmono mengaitkannya dengan Candi Ngawen yang terletak di sebelah
barat Muntilan, atas dasar persamaan bunyi nama. Sedangkan bangunan yang
disebut Jinalaya diduga merujuk pada Candi Borobudur.
6.
Prasasti
Sojomerto
Prasasti Sojomerto merupakan
peninggalan Wangsa Syailendra yang ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno. Prasasti ini tidak menyebutkan angka tahun, berdasarkan
taksiran analisis paleografi diperkirakan berasal dari kurun akhir abad ke-7
atau awal abad ke-8 masehi.
Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti
memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta
Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu,
ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta
Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Syailendra yang
berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu adalah penganut agama Budha.
Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43
cm, tebal 7 cm, dan tinggi 78 cm.[2] Tulisannya
terdiri dari 11 baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia.
7.
Prasasti
Boko
Prasasti
ini berangka tahun 792 M yang dinamakan Prasasti Abhayagiriwihara.
Isi prasasti tersebut mendasari dugaan bahwa Kraton Ratu Boko dibangun
oleh Rakai Panangkaran. Prasasti Abhayagiriwihara ditulis
menggunakan aksara pranagari. Dalam
prasasti itu disebutkan bahwa Raja Tejapurnama Panangkarana, yang diperkirakan
adalah Rakai Panangkaran, telah memerintahkan pembangunan Abhayagiriwihara.
Nama yang sama juga disebut-sebut dalam Prasasti Kalasan (779 M), Prasati
Mantyasih (907 M), dan Prasasti Wanua Tengah III (908 M).
Menurut
para pakar, kata abhaya berarti tanpa hagaya atau damai, giri berarti gunung
atau bukit. Dengan demikian, Abhayagiriwihara berarti biara yang
dibangin di sebuah bukit yang penuh kedamaian. Pada pemerintahan
Rakai Walaing Pu Kombayoni, yaitu tahun 898-908, Abhayagiri Wihara berganti
nama menjadi Kraton Walaing.
B.
Pecahnya
Kerajaan Mataram Kuno
Rakai Panangkaran merupakan raja yang sudah mengembangkan
sikap toleransi beragama, tetapi sejak Rakai Panangkaran wafat, kerajaan
Mataram Kuno pecah menjadi 2 keluarga (wangsa) yaitu Wangsa Sanjaya yang
beragama Hindu dan Wangsa Syailendra yang beragama Budha
1. Kerajaan
Mataram yang bercorak Hindu.
Keluarga Sanjaya yang
beragama Hindu, berkuasa di Jawa Tengah bagian utara. Kerajaan ini menurunkan
raja-raja dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu, seperti Panunggalan, Warak,
Garung dan Pikatan. Sisa peninggalannya berupa candi yang berada di kompleks
Pegunungan Dieng, diantaranya Candi Bima, Arjuna, Puntadwea (Santiaji), Kompleks
Candi Prambanan, Kompleks Candi Gedong Songo, Candi Pringapus dan Candi
Selogriyo.
2. Kerajaan
Mataram yang bercorak Budha
Keluarga Syailendra yang beragama Budha, berkuasa di Jawa Tengah bagian
selatan, mereka membangun Candi Budha antara lain : Candi Mendut, Pawon,
Kalasan, Sari, Sewu dan Borobudur. Sedangkan raja-raja dari Dinasti Syailendra
antara lain Raja Bhanu (752-775), Wisnu (775-782), Indra (782-812),
Samaratungga (812-833) dan Pramodhawardhani (833-856).
C.
Bersatunya
Kerajaan Mataram Kuno
Kedua
keluarga Mataram akhirnya dapat bersatu
lagi setelah adanya perkawinan antara Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya dengan
Pramodhawardhani dari Wangsa Syailendra pada tahun 850 M. Perkawinan ini
sebenarnya ditentang oleh Balaputradewa, itulah sebabnya setelah Raja
Samaratungga wafat, Balaputradewa memberontak terhadap Rakai Pikatan, namun
dapat dikalahkan. Balaputradewa melarikan diri ke Sumatra dan menjadi raja di
Sriwijaya.
Pada masa
pemerintahan Rakai Pikatan wilayah Mataram meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Baginda juga mendirikan banguna suci untuk agama Hindu dan Budha, diantaranya
Candi Plaosan dan Candi Roro Jonggrang di Prambanan.
Pada masa
pemerintahan Raja Balitung (896-930) banyak ditemukan prassati baik di Jawa
Tengah maupun di Jawa Timur. Dari hasil penelitian terhadap prasasti tersebut
diketahui bahwa wilayah kekuasaan Balitung meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Prasasti
hasil penemuan pada masa pemerintahan Raja Balitung yang sangat menarik adalah
prasasti Canggal/Kedu karena dalam prasasti tersebut memuat silsilah raja-raja
Mataram nulai dari Raja Sanjaya sampai Raja Balitung. Selain prasasti, Raja
Balitung juga membangun kompleks Candi Loro Jonggrang di Prambanan. Pembangunan
candi ini baru selesai pada masa pemerintahan Daksa, yaitu pengganti Balitung.
D. Berpindahnya Pusat Pemerintahan
Kerajaan Mataram Kuno
Setelah
Balitung memerintah Mataram, Beliau kemudian digantikan oleh Daksa, Tulodong.
Sedangkan raja terakhir Kerajaan Mataram Kuno adalah Wawa (924-929). Wawa
digantikan oleh menantunya yaitu Empu Sindok. Pada saat Empu Sindok berkuasa
inilah pusat pemerintahan Mataram Kuno dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa
Timur dengan alasan bencana alam (untuk menghindari letusan Gunung Merapi),
alasan politik (untuk menghindari serangan dari Kerajaan Sri Wijaya) dan alasan
ekonomi (untuk mendekati daerah yang subur).
Demikianlah
Sejarah Kerajaan Mataram Kuno, yang merupakan salah satu Kerajaan besar
bercorak Hindu dan Budha yang telah meninggalkan Candi Borobudur dan Candi
Prambanan sebagai ikon terbesar bagi pemeluk agama Budha dan Hindu di
Indonesia. Berikut ringkasan materi Kerajaan Mataram Kuno dalam bentuk animasi :
Semoga bermanfaat dan sampai jumpa pada materi berikutnya, Wassalammu’alaikum Wr. Wb.










Materinya sangat membantu, bisa ikut unduh ya....
BalasHapusSilahkan Bu Uswah Muzayanah, makasih ya dah ikutan nimbrung di sisni...
HapusTanya bu, apakah kerajaan Mataram yang bercorak Hindu Budha berdiri bersama atau beda waktunya?
BalasHapusBerbeda waktunya Pak Suseno, pada awalnya Mataram Hindu dulu, baru dalam perkembangan selanjutnya berdiri kerajaan Mataram yang bercorak Budha. Toleransi ini terjadi sejak masa Raja Rakai Panangkaran. Terima kasih sdh mampir di blog saya Pak...
Hapusbagus, untuk pengetahuan sejarah pada generasi muda... bermanfaat
BalasHapusSemoga Pak, karena pendalaman Sejarah pada anak-anak sekarang kelihatannya agak berkurang. Terima kasih Pak Yudhishipsz telah mampir di blog saya.
Hapusmantap bu...materinya lengkap...tapi dimana ya video pendukung artikelnya..saya belum temukan
BalasHapuscolek juga aku mrmelayu63.blogspot.com
Video ada di bawah Mr. Melayu, terimakasih ya dah mampir di blog saya.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMantap banget bu...lanjutkan..he...he..
BalasHapusTerima kasih Bu Dewi Triningsih, sudah berkenan hadir di blog saya.
Hapus