Jumat, 16 November 2018

Kerajaan Mataram Kuno


Assalamu'alaikum Wr.Wb. Hallo sahabat blogger, apa kabar? Selalu sehat dan tetap semangat ya? Kali ini saya akan berbagi mengenai kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia, salah satunya adalah Kerajaan Mataram Kuno. Jangan salah sahabatku, Kerajaan Mataram tidak hanya satu lho, karena ada Kerajaan Mataram Kuno (Lama), dan ada kerajaan Mataram Islam. Kali ini kita mempelajari tentang Kerajaan Mataram Kuno. Selamat menyimak!
KERAJAAN MATARAM KUNO
Sebelum budaya India masuk ke Indonesia, masyarakat belum mengenal pemerintahan kerajaan. Kala itu masyarakat dipimpin oleh seseorang  yang disebut kepala suku. Dengan masuknya budaya India, kedudukan kepala suku diganti oleh seorang raja, dan pedesaan berubah menjadi kerajaan. Dengan demikian muncullah kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha di Indonesia. Kerajaan-kerajaan ini mulai berkembang sejak abad ke 5 Masehi. Salah satunya adalah Kerajaan Mataram Kuno yang berkembang abad ke-8 Masehi dan berpusat di Medang Kamulan Kerajaan Mataram Kuno adalah kerajaan yang bercorak Hindu


A.    Sumber Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Sumber sejarah untuk mempelajari tentang Kerajaan Mataram Kuno dapat diketahui dari adanya:
1.      Prasasti Canggal
Prasasti ini ditemukan di Gunung Wukir, Desa Canggal Kecamatan Kadiluwih. Letaknya di sebelah barat kota Magelang. Prasasti Canggal berangka tahun 732M berhuruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta.


Prasasti Canggal menerangkan bahwa Jawa Dwipa diperintah oleh Sanna yang mempunyai saudara perempuan bernama Sanaha yang kemudian berputra Sanjaya. Setelah pemerintahan Sanna berakhir, Sanjaya berhasil membangun kerajaan baru yang bernama Mataram. Jadi yang mengganti Raja Sanna adalah Sanjaya (kemenakannya) dengan memakai gelar “RAKAI MATARAM SANG RATU SANJAYA”. Prasasti ini juga menceritakan tentang pembangunan sebuah lingga oleh Raja Sanjaya di bukit Kunjarakunja dengan tujuan untuk memuja Dewa Siwa.
2.      Prasasti Balitung / Mantyasih/ Kedu
Prasasti Balitung dibuat pada masa pemerintahan Raja Balitung dan ditemukan di Mantyasih dekat Kedu yang berangka tahun 907. Prasasti ini berupa lempengan tembaga yang berisi silsilah dinasti Sanjaya. Isi dari prasasti ini antara lain berbunyi: “Rahyangta Rumuhun Ri Medang Ri Poh Pitu”, yang artinya dewa-dewa atau nenek moyang kami yang telah meninggal di Medang di Poh Pitu.


Silsilah Dinasti Sanjaya itu adalah sebagai berikut :
1.      Sri Maharaja Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (732-760)
2.      Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760-780)
3.      Sri Maharaja Rakai Panunggalan (780-800)
4.      Sri Maharaja Rakai Warak (800-820)
5.      Sri Maharaja Rakai Garung (820-840)
6.      Sri Maharaja Rakai Pikatan (840-863)
7.      Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (863-882)
8.      Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882-898)
9.      Sri Maharaja Rakai Hura Dyah Balitung (898-910)
Karena prasasti ini ditemukan di Mantyasih daerah Kedu, makanya disebut juga prasasti Mantyasih atau prasasti Kedu.
3.      Prasasti Kalasan


Dalam prasasti yang berangka tahun 778 M ini disebutkan nama lengkap Raja Panangkaran yaitu Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Dengan demikian Rakai Panangkaran berasal dari keluarga Syailendra, begitu pula Sanjaya. Dengan kata lain keluarga Syailendra adalah Sanjaya dan keturunannya. Hanya pada masa pemerintahan Sanjaya, raja memeluk agama Hindu. Begitu juga pada masa pemerintahan Raja Panangkaran, ia juga beragama Hindu, tetapi pada masa pemerintahannya di Jawa Tengah mulai berkembang agama Budha. Bahkan Rakai Panangkaran pun membantu perkembangan agama Budha.
Prasasti Kalasan menyebutkan bahwa para pendeta Budha memohon ijin kepada raja untuk mendirikan bangunan suci untuk memuja Dewi Tara, dewa yang disembah oleh para pemeluk agama Budha. Permohonan ijin para pendeta ini dikabulkan oleh raja, bahkan raja memberikan Desa Kalasan untuk mendirikan bangunan suci tersebut. Bangunan suci itulah yang kemudian disebut  Candi Kalasan yang terletak di sebelah timur Yogyakarta. Setelah Panangkaran wafat, keluarga Syailendra di Mataram pecah menjadi dua.
4.      Prasasti Kelurak


Prasasti ini berangka tahun 782 M, ditulis dengan huruf Pranagari dan berhasa Sansekerta. Dalam prasasti tersebut dijelaskan bahwa seorang raja yang bernama Indra membuat bangunan suci dan arca Manjusri. Mungkin sekali yang dimaksud adalah bangunan Candi Sewu sebelah utara Candi Prambanan.
5.      Prasasti Karang Tengah/ Kayumwungan



Prasasti Kayumwungan adalah sebuah prasasti pada lima buah penggalan batu yang ditemukan di Dusun Karangtengah, Kabupaten Temanggung, Propinsi Jawa Tengah sehingga lebih dikenal dengan prasasti Karangtengah. Prasasti ini ditulis dengan aksara Jawa Kuno dan menggunakan dua bahasa. Baris 1 – 24 berbahasa sansekerta, baris selanjutnya ditulis Jawa Kuno. Masing-masing bahasa menunjuk angka tahun 746 Saka atau 824 Masehi. Ketika ditemukan, prasasti terpecah menjadi lima fragmen, yaitu a, b, c, d dan e. Bagian a, c, dan d sudah tidak ditemukan lagi. Bagian c sempat dialih aksarakan oleh J.G de Casparis. Koleksi ini adalah fragmen yang tersisa, yaitu fragmen b (D27) dan fragmen e(D34) yang saat ini disimpan di Museum nasional Jakarta.
Fragmen dengan nomor inventaris D27 adalah bagian atas prasasti yang setengah lingkaran pada bagian atas/ puncaknya. Berukuran 39 x 46 x 12 cm. Ditulis dalam huruf Jawa Kuno dan bahasa Sansekerta. Tulisannya sudah sangat aus dan sulit dibaca. Fragmen dengan nomor inventaris D34 adalah bagian bawah prasasti yang berbentuk segiempat. Berukuran 59 x 40 x 8,5. Ditulis dalam huruf Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno.Tulisannya masih cukup jelas. Kelihatannya kalimat baris terakhir dari prasasti ini belum selesai.


Isi tulisan pada bagian berbahasa Sansekerta adalah tentang seorang raja bernama Samaratungga. Anaknya bernama Pramodawardhani mendirikan bangunan suci Jinalaya serta bangunan Wenuwana (Venuvana_sansekerta, yang berarti hutan bambu). Untuk menempatkan abu jenazah “Raja Mega”; sebutan untuk Dewa Indra. Mungkin yang dimaksud adalah Raja Indra atau Dharanindra dari keluarga Syailendra.
Bagian Jawa Kuno menyebutkan bahwa pada 10 Kresnapaksa Bulan Jyestha Tahun 746 Saka (824 M), Rakai Patapan pu Palar meresmikan tanah sawah di Kayumwungan menjadi Tanah Sima atau tanah perdikan (daerah bebas pajak). Casparis mengaitkan bangunan Wenuwana ini dengan Candi Mendut, sedangkan Soekmono mengaitkannya dengan Candi Ngawen yang terletak di sebelah barat Muntilan, atas dasar persamaan bunyi nama. Sedangkan bangunan yang disebut Jinalaya diduga merujuk pada Candi Borobudur.
6.    Prasasti Sojomerto



Prasasti Sojomerto merupakan peninggalan Wangsa Syailendra yang ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan RebanKabupaten BatangJawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno. Prasasti ini tidak menyebutkan angka tahun, berdasarkan taksiran analisis paleografi diperkirakan berasal dari kurun akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 masehi.
Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Syailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu adalah penganut agama Budha.
Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43 cm, tebal 7 cm, dan tinggi 78 cm.[2] Tulisannya terdiri dari 11 baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia.

7.      Prasasti Boko



Prasasti ini berangka tahun 792 M yang dinamakan Prasasti Abhayagiriwihara. Isi prasasti tersebut mendasari dugaan bahwa Kraton Ratu Boko dibangun oleh Rakai Panangkaran. Prasasti Abhayagiriwihara ditulis menggunakan aksara pranagari. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Raja Tejapurnama Panangkarana, yang diperkirakan adalah Rakai Panangkaran, telah memerintahkan pembangunan Abhayagiriwihara. Nama yang sama juga disebut-sebut dalam Prasasti Kalasan (779 M)Prasati Mantyasih (907 M), dan Prasasti Wanua Tengah III (908 M).

Menurut para pakar, kata abhaya berarti tanpa hagaya atau damai, giri berarti gunung atau bukit. Dengan demikian, Abhayagiriwihara berarti biara yang dibangin di sebuah bukit yang penuh kedamaian.  Pada pemerintahan Rakai Walaing Pu Kombayoni, yaitu tahun 898-908, Abhayagiri Wihara berganti nama menjadi Kraton Walaing.

B.     Pecahnya Kerajaan Mataram Kuno
Rakai Panangkaran merupakan raja yang sudah mengembangkan sikap toleransi beragama, tetapi sejak Rakai Panangkaran wafat, kerajaan Mataram Kuno pecah menjadi 2 keluarga (wangsa) yaitu Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu dan Wangsa Syailendra yang beragama Budha
1.      Kerajaan Mataram yang bercorak Hindu.
Keluarga Sanjaya yang beragama Hindu, berkuasa di Jawa Tengah bagian utara. Kerajaan ini menurunkan raja-raja dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu, seperti Panunggalan, Warak, Garung dan Pikatan. Sisa peninggalannya berupa candi yang berada di kompleks Pegunungan Dieng, diantaranya Candi Bima, Arjuna, Puntadwea (Santiaji), Kompleks Candi Prambanan, Kompleks Candi Gedong Songo, Candi Pringapus dan Candi Selogriyo.



2.      Kerajaan Mataram yang bercorak Budha
Keluarga Syailendra yang beragama Budha, berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan, mereka membangun Candi Budha antara lain : Candi Mendut, Pawon, Kalasan, Sari, Sewu dan Borobudur. Sedangkan raja-raja dari Dinasti Syailendra antara lain Raja Bhanu (752-775), Wisnu (775-782), Indra (782-812), Samaratungga (812-833) dan Pramodhawardhani (833-856).

C.    Bersatunya Kerajaan Mataram Kuno
Kedua keluarga Mataram  akhirnya dapat bersatu lagi setelah adanya perkawinan antara Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya dengan Pramodhawardhani dari Wangsa Syailendra pada tahun 850 M. Perkawinan ini sebenarnya ditentang oleh Balaputradewa, itulah sebabnya setelah Raja Samaratungga wafat, Balaputradewa memberontak terhadap Rakai Pikatan, namun dapat dikalahkan. Balaputradewa melarikan diri ke Sumatra dan menjadi raja di Sriwijaya.
Pada masa pemerintahan Rakai Pikatan wilayah Mataram meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Baginda juga mendirikan banguna suci untuk agama Hindu dan Budha, diantaranya Candi Plaosan dan Candi Roro Jonggrang di Prambanan. 


                           




Pada masa pemerintahan Raja Balitung (896-930) banyak ditemukan prassati baik di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur. Dari hasil penelitian terhadap prasasti tersebut diketahui bahwa wilayah kekuasaan Balitung meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Prasasti hasil penemuan pada masa pemerintahan Raja Balitung yang sangat menarik adalah prasasti Canggal/Kedu karena dalam prasasti tersebut memuat silsilah raja-raja Mataram nulai dari Raja Sanjaya sampai Raja Balitung. Selain prasasti, Raja Balitung juga membangun kompleks Candi Loro Jonggrang di Prambanan. Pembangunan candi ini baru selesai pada masa pemerintahan Daksa, yaitu pengganti Balitung.

D.    Berpindahnya Pusat Pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno
Setelah Balitung memerintah Mataram, Beliau kemudian digantikan oleh Daksa, Tulodong. Sedangkan raja terakhir Kerajaan Mataram Kuno adalah Wawa (924-929). Wawa digantikan oleh menantunya yaitu Empu Sindok. Pada saat Empu Sindok berkuasa inilah pusat pemerintahan Mataram Kuno dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dengan alasan bencana alam (untuk menghindari letusan Gunung Merapi), alasan politik (untuk menghindari serangan dari Kerajaan Sri Wijaya) dan alasan ekonomi (untuk mendekati daerah yang subur).
Demikianlah Sejarah Kerajaan Mataram Kuno, yang merupakan salah satu Kerajaan besar bercorak Hindu dan Budha yang telah meninggalkan Candi Borobudur dan Candi Prambanan sebagai ikon terbesar bagi pemeluk agama Budha dan Hindu di Indonesia. Berikut ringkasan materi Kerajaan Mataram Kuno dalam bentuk animasi :


                 



Semoga bermanfaat dan sampai jumpa pada materi berikutnya, Wassalammu’alaikum Wr. Wb.

11 komentar:

  1. Materinya sangat membantu, bisa ikut unduh ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan Bu Uswah Muzayanah, makasih ya dah ikutan nimbrung di sisni...

      Hapus
  2. Tanya bu, apakah kerajaan Mataram yang bercorak Hindu Budha berdiri bersama atau beda waktunya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berbeda waktunya Pak Suseno, pada awalnya Mataram Hindu dulu, baru dalam perkembangan selanjutnya berdiri kerajaan Mataram yang bercorak Budha. Toleransi ini terjadi sejak masa Raja Rakai Panangkaran. Terima kasih sdh mampir di blog saya Pak...

      Hapus
  3. bagus, untuk pengetahuan sejarah pada generasi muda... bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga Pak, karena pendalaman Sejarah pada anak-anak sekarang kelihatannya agak berkurang. Terima kasih Pak Yudhishipsz telah mampir di blog saya.

      Hapus
  4. mantap bu...materinya lengkap...tapi dimana ya video pendukung artikelnya..saya belum temukan
    colek juga aku mrmelayu63.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Video ada di bawah Mr. Melayu, terimakasih ya dah mampir di blog saya.

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Mantap banget bu...lanjutkan..he...he..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bu Dewi Triningsih, sudah berkenan hadir di blog saya.

      Hapus